Visit Blog
Explore Tumblr blogs with no restrictions, modern design and the best experience.
Fun Fact
The name Tumblr is derived from "Tumblelogs", which were hand coded multimedia blogs.
#chicklit
tessatalksbooksblog · 13 hours ago
Video
Happy Thursday! . I have mini book reviews posted today on my #bookblog (link in bio) for two books that are not my typical reads. . The Widow Queen is a historical fictional novel about a medieval Scandinavian queen that reminded me of Game if Thrones with its mysticism and cut-throat politics. . I also reviewed a Chick Lit book entitled Finding Home by Kate Field which is a lovely story about a woman discovering what family really means. . Both stories I rated 4-suns ☀️☀️☀️☀️. . Do you ever go outside your typical genres and try something new? . . . . #thewidowqueen #findinghome #katefield #elzbietacherezinska #bookreview #bookreviews #bookreviewer #bookreviewersofinstagram #bookreviewsofinstagram #bookreviewblog #bookreviewblogger #historicalfiction #historicalfictionbooks #contemporaryfiction #chicklit #chicklitreads #bookblogger #bookblogging #bookbloggersofinstagram #bookbloggersofig #bookbloggerlife #bookstagram #bookdragon #bibliophile #bibliophilelife #booklover #booknerd #bookcommunity #bookrecommendations (at Lake Davidson) https://www.instagram.com/p/CNr9K1QAarZ/?igshid=1pfd6o8po8sf1
0 notes
tazkiaedelias · 22 hours ago
Text
Chapter 11: ... is an Understatement
Tumblr media
Reyna sedikit terperanjat mendengar suara Olivia yang tajam memotong ucapan Sean. Wajah Olivia mengeras, dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat menunduk menatap piringnya. Tangannya terkepal dengan kencang. Dava segera menggenggam tangan Olivia, sementara Sean langsung terdiam. Reyna menatap ketiga orang di sekelilingnya dengan bingung, tidak mengerti apa yang terjadi.
Selama beberapa lama, ada keheningan di antara mereka yang sangat tidak nyaman. Reyna kemudian berdeham, berusaha memecah kecanggungan di antara mereka. “Jadi, setelah ini kita ke mana?” tanya Reyna berusaha memaksakan suaranya terdengar ringan dan santai.
Olivia mengangkat wajahnya dan memandang Reyna. Seutas senyum kembali muncul di wajahnya. “Karena kamu lagi di London, jadi kamu wajib ke Harrods!” jawab Olivia.
Reyna menelan ludahnya memaksakan dirinya untuk tersenyum. Reyna merasa lega ketika Olivia sudah tersenyum seperti sebelumnya, tetapi… sesi belanjanya masih berlanjut?
Dari kejauhan, kanopi berwarna hijau dengan tulisan Harrods itu langsung dikenali Reyna dari berbagai film berlatar belakang Inggris. Mungkin benar kata Olivia, jika di London tentu harus mampir ke tempat ini. Setidaknya, untuk berfoto di depannya, seperti beberapa turis yang dilihat Reyna sedang berfoto barusan.
Keempatnya langsung menuju bagian pakaian wanita. Seorang wanita dengan seragam Harrods menghampiri Olivia dan menyapa untuk melayaninya. Olivia mengangguk kecil, lalu menarik Dava untuk membantunya memilih dress.
Reyna tidak berniat untuk mengikuti Olivia dan Dava. Dia memutuskan untuk melihat beberapa dress yang tergantung di bagian depan, hanya untuk sekedar melihat tag harga yang tergantung. Reyna membelalakkan matanya. Harga satu dress ini sama seperti uang jajannya selama beberapa hari di London! Reyna memutuskan untuk duduk saja di sebuah sofa kecil bersama dengan Sean. Lagipula, ada yang ingin ditanyakannya kepada Sean.
“Sean, boleh ga gue nanya tentang Nathan?” tanya Reyna yang langsung menyesali rasa ingin tahu nya itu ketika dilihatnya Sean terdiam. “Maaf, harusnya gue ga nanya tentang itu.”
Sean menggeleng, meyakinkan Reyna bahwa dia baik-baik saja lalu menjawab pertanyaan Reyna itu. “Nathan itu kakak gue. Dan juga kekasih Olivia, sampai tiga bulan lalu sebuah kecelakaan merenggut nyawanya.”
“I’m sorry…”
“I’m fine. Olivia yang paling terguncang saat itu. Dan sepertinya masih sampai saat ini. Untunglah Dava udah ada di London saat itu jadi kami berdua bisa ngejaga Olivia.”
Reyna mengangguk pelan.
“Gue harus berterima kasih ke Dava. Berkat dia, Olivia bisa mulai tersenyum lagi,” lanjut Sean sambil melihat ke arah Dava dan Olivia.
Reyna terdiam, tidak menyangka gadis cantik itu baru saja mengalami kejadian yang berat. Baik Reyna maupun Sean tidak banyak bicara, mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
“Rey, Olivia butuh bantuan lo di kamar ganti.” Suara Dava mengejutkan Reyna dan Sean. Dava kemudian duduk di dekat Sean, dan Reyna pun berjalan ke arah kamar ganti.
“Olivia?”
Olivia menyembulkan kepalanya dari balik tirai salah satu bilik ganti. “Reyna, bisa bantu aku?”
Reyna menghampiri Olivia dan Olivia memintanya masuk ke bilik kamar ganti. Olivia sedang mengenakan strapless dress berwarna burgundy. Reyna membantunya menarik ke atas resleting baju di punggung Olivia. Olivia menatap ke arah cermin lalu menggeleng.
“Ga cocok di aku.”
Reyna menatapnya bingung. Olivia terlihat cantik sekali dengan baju itu. Dress itu terlihat sangat pas di tubuh Olivia yang langsing dan tinggi. Warna burgundy yang mewah itu sangat kontras di kulit Olivia yang putih.
“Kenapa? Lo cantik banget dengan dress itu,” puji Reyna.
“Dadaku terlalu rata untuk pakai strapless dress gini. Dan aku terlihat gemuk.”
Reyna menggeleng dengan cepat yang hanya dibalas Olivia dengan senyuman lemah.
Olivia mengambil dress lainnya, sebuah spaghetti strap dress berwarna nude. Namun ketika Olivia melihat pantulannya di cermin, dia kembali menggeleng. “Terlalu pucat.”
Reyna kembali menatap Olivia bingung. Dress tadi juga terlihat cantik di tubuh Olivia.
“Reyna, coba dress ini deh. Kayaknya akan cocok di kamu,” ucap Olivia sambil menunjuk sebuah dress berwarna navy yang tergantung di dinding.
“Eh ga usah kok. Gue ga berniat beli-beli di sini.”
“Coba aja. Aku yang maksa. Please.”
Mau tak mau, Reyna mencoba dress tersebut. Sebuah sleeveless dress selutut berbahan satin. Dress model a-line yang memiliki potongan yang sempit di bagian atas dan sedikit melebar di bagian bawah itu sangat pas dikenakan Reyna. Reyna pun menyukai pantulan yang dia lihat di cermin.  
“Ya kaan, aku tau kamu bakal cocok make dress itu. Badanmu bagus banget, aku iri.”
“Olivia, lo tu cantik, langsing, tinggi, dan semua dress yang lo pake tu bagus banget dipakenya. Gue yang harusnya iri sama lo,” sanggah Reyna.
Reyna memperhatikan wajah Olivia yang terlihat muram. Kalimat yang diucapkan Olivia tadi tidak terasa seperti basa-basi seseorang yang hanya minta dipuji. Olivia terlihat benar-benar tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Olivia yang dilihatnya sekarang sungguh berbeda dengan Olivia yang sangat ceria ketika membantunya berbelanja di Primark tadi.  
“Makasih ya Reyna…” ucap Olivia memaksakan sebuah senyum di wajahnya.
Reyna melepas dress yang dikenakannya dan kembali berganti dengan pakaiannya yang semula. Digantungnya kembali dress itu. Sedikit sedih karena Reyna terlanjur menyukai dress itu, tetapi dia tahu dia tidak akan mampu membelinya.
“Eh tunggu, aku mau beli dress itu,” cegat Olivia yang melihat Reyna akan meletakkan kembali dress navy itu ke gantungan di luar bilik. Olivia pun memberikan beberapa potong dress yang akan dibelinya kepada pramuniaga wanita yang sedang menunggunya.
Reyna menghampiri Dava dan Sean yang sedang menunggu.
“Kalian ga bosen?”
“Udah biasa kok,” jawab Sean santai.
Tidak lama, Olivia menghampiri mereka sambil menenteng dua buah kantung belanja.
“Buat kamu,” ucapnya sambil memberikan salah satu kantung kepada Reyna. “Anggap saja kado kecil untuk pertemanan kita,” lanjutnya melihat wajah kaget Reyna.
Reyna masih ingin menolaknya. Dia yakin sekali harganya tidak murah. Namun, Dava menggamit pelan lengannya dan berbisik, “Ambil aja Rey. Gapapa kok. Kalau ditolak Olivia bisa tersinggung.”
Reyna pun menuruti saran Dava dan berterimakasih kepada Olivia.
“Pakai untuk makan malam nanti ya. Aku udah reservasi makan malam di tempat yang istimewa. Kuharap kamu ga takut ketinggian ya,” pesan Olivia sambil mengedipkan matanya. Rupanya, tempat yang istimewa yang dimaksud Olivia rupanya adalah private dinner di London Eye!
Reyna masih merasa terkaget-kaget dengan skala pertemanan Olivia, Sean, dan Dava ini. Rencana Reyna sebelumnya adalah menaiki London Eye di malam terakhirnya di London. Dengan begitu, Reyna memang sudah memastikan semua pengeluarannya di London sesuai rencana, tidak ada pengeluaran tambahan di luar kemampuannya. Namun, dengan mudahnya Olivia memesan private fine dining yang merupakan paket premium yang ditawarkan di London Eye. Reyna sampai tidak berani untuk mencari tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan, pasti jauh lebih mahal daripada menyewa satu private pods, apalagi jika dibandingkan tiket regular yang biasa.
Setelah sedikit berjalan-jalan dan menikmati afternoon tea di The Berkeley, mereka berempat kemudian berkendara menuju rumah Olivia yang terletak di daerah Belgravia, tidak jauh dari tempat mereka saat itu.
Reyna terpana melihat rumah Olivia. Rumah empat lantai itu sangat besar dan mewah. Bagian dalam rumah itu sama mewahnya dengan bagian luar, semua desain dan perabotnya sangat modern. Sean dan Dava kemudian menunggu di ruang tamu sementara Olivia mengajak Reyna naik ke kamarnya di lantai 2.
Kamar Olivia sangat mencerminkan dirinya. Kamarnya luas, didominasi warna putih dan muted pink serta dilengkapi dengan kamar mandi dan walk in closet. Reyna hanya bisa membandingkan ukuran kamarnya yang mungkin hanya seukuran walk in closet milik Olivia.
Reyna pun mengganti pakaiannya dengan dress navy yang diberikan Olivia. Untunglah Reyna tetap membawa ankle boots yang disiapkan ibunya dan memutuskan untuk mengenakannya hari ini. Karena kalau tidak, tentu sangat tidak cocok jika dress ini dipadukan dengan sneakers nya. Sementara, Olivia memutuskan untuk menggunakan slim fit mini dress berwarna hitam.
“Reyna, kamu jarang pake make up ya? Padahal kamu bakal tambah cantik kalau wajahmu ini dipulas make up,” ucap Olivia sambil memulaskan eyeshadow dan blush on di wajah Reyna.
Reyna tersenyum. Gadis di depannya ini sungguh sempurna. Cantik, dari keluarga berada dan terpandang, dan berpendidikan tinggi. Reyna sempat berharap Olivia memiliki sifat sombong agar setidaknya terlihat lebih manusiawi. Namun, Olivia sangat ramah, bahkan terhadap dirinya yang tentu memiliki status sosial yang jauh berbeda. Jika Reyna tidak bertemu Olivia secara langsung, Reyna mungkin tidak akan percaya ada gadis sesempurna itu selain di cerita-cerita fiksi.
“Selesai!” ucap Olivia sambil menatap Reyna puas. Reyna memandang wajahnya di cermin dan hampir tidak percaya bahwa pantulan yang dilihatnya itu adalah dirinya. Dia terlihat sangat cantik. Wajahnya sedikit bersemu, merasa malu karena sudah memuji dirinya sendiri.
Setelah keduanya siap, Reyna dan Olivia kemudian turun menuju tempat Sean dan Dava menunggu. Namun, tepat ketika mereka sampai di lantai 1, Olivia mendengar suara ibunya berbicara dengan Sean.
“Dia baik-baik saja sekarang, tapi saya tidak bisa menyebut nama Nathan tanpa membuatnya marah. Sekarang, jika dia marah dia akan melempar semua benda yang ada di dekatnya. Apa yang harus kita lakukan, Sean?”
Kejadian berikutnya terjadi sangat cepat sampai Reyna tidak sempat untuk memahami apapun. Olivia menghampiri ibunya dan Sean sambil berteriak, meminta mereka tidak menyebutkan nama itu lagi di rumah ini. Olivia mengambil sebuah pajangan yang ada di atas meja dan berniat untuk melemparnya ke arah Sean, tetapi untungnya masih bisa ditahan oleh Dava. Dava segera memeluk Olivia yang masih meronta berusaha melepaskan diri. Ibunya Olivia terdiam sambil menangis, tidak berani mendekati anaknya.
Dava melirik ke arah Reyna yang masih terpaku melihat kejadian itu, lalu memberi kode kepada Sean melalui matanya. Sean mengangguk lalu menghampiri Reyna.
“Gue antar ke hotel ya.”
Reyna mengangguk. “Olivia…”
Sean terdiam sebentar. “Dia akan baik-baik aja. Ada Dava di sini.”
--
Sean bersandar di dinding depan rumah Olivia. Reyna sudah diantarnya kembali ke hotel. Sean menyalakan rokoknya, lalu menghirupnya perlahan. Sedari tadi dia ingin melakukannya tetapi ditahannya karena Olivia tidak menyukainya. Dava menghampiri Sean.
“Gimana dia?” tanya Sean.
“Tidur,” jawab Dava. “Dia butuh bantuan, Sean. Professional help. Bukan hanya kita yang selalu jadi ‘yes men’ untuk Olivia.”
“Lo tau kan dia ga akan suka. Ga akan mau.” Sean teringat saat kali pertama Sean mengantar Olivia ke rumah sakit. Olivia marah besar, memaki dan memukulnya. Setelahnya Olivia sempat tidak mau bertemu dengan Sean selama sebulan lamanya.
“Lo pikir gue suka dengan kondisi sekarang? Lo tau kan selama ini niat gue cuma untuk nolongin lo?”
Sean menatap Dava. Berharap Dava masih bisa membantunya, namun sepertinya hal itu tidak akan terjadi. “Kenapa sekarang? Kenapa ga dari awal, Dav?”
“Lo tau kenapa.”
“Do you like her that much, Dav?” tanya Sean. Tanpa diucapkan namanya, Dava tau siapa yang dimaksud Sean.
“Liking her is an understatement.”
0 notes
tazkiaedelias · a day ago
Text
Chapter 10: Shopping Day
Tumblr media
Jam 9 pagi, Reyna sudah menyelesaikan sarapannya dan sedang menunggu Sean di lobby hotel. Takeru baru saja meninggalkannya setelah memberikannya sebagian gift voucher yang didapatnya kemarin. Katanya sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih atas kebaikan Reyna selama ini.
Berbuat baik itu ga pernah salah, batin Reyna sambil tersenyum menatap Takeru yang sudah berjalan ke luar hotel.
Tidak lama, Sean menghampirinya.
“Sudah siap, Reyna? Dava dan Olivia sudah menunggu di mobil.”
“Kita naik mobil?” Reyna bertanya heran. Sepengetahuannya, berkeliling kota London cukup nyaman dengan berjalan kaki. Jika cukup jauhpun mereka bisa menggunakan tube.
Sean mengangguk tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Keduanya kemudian berjalan ke luar hotel dan langsung masuk ke mobil yang sudah menunggu di depan.
Sean membukakan pintu belakang untuk Reyna. Reyna bisa melihat Olivia sudah duduk di kursi belakang, sementara Dava berada di kursi pengemudi. Olivia menyapa Reyna dengan ramah.
“Selamat pagi, Reyna.”
“Pagi, Olivia,” jawab Reyna sambil memperhatikan gadis yang berada di sebelahnya ini. Olivia mengenakan dress di atas lutut dengan coat berwarna senada dan knee-high boots berwarna hitam. Sebuah tas Hermes Birkin berwarna hitam berada di pangkuannya. Reyna jadi bisa menebak alasan mereka menaiki kendaraan pribadi. “Hari ini kita mau ke mana?”
“Belanja dong!” jawab Olivia riang.
Jawaban itu membuat Reyna sedikit menyesali keputusannya untuk pergi bersama mereka hari ini. Namun, Reyna berusaha menyembunyikan perasaannya itu dan menjawabnya dengan anggukan.
“Kamu mau ke mana, Bond Street, Westfield, atau Harrods?” tanya Olivia.
Reyna sudah browsing tempat-tempat yang ingin dikunjunginya, dan nama-nama yang disebut Olivia sebenarnya tidak masuk ke daftarnya. Reyna hanya mengenal nama-nama itu sebagai daerah untuk berbelanja barang-barang high end. Berbeda sekali dengan tempat belanja yang ingin dikunjunginya: Camden Market.
“Hmm, yang ada Primark nya?” ucapnya sambil menunjukkan voucher Primark yang baru didapatnya dari Takeru.
Olivia sedikit berpikir. “Kalau begitu… Dava, kita ke Oxford Street yaa.”
Dava mengangguk tanpa berbicara. Pandangannya lurus ke depan. Sean hanya meliriknya sebentar lalu melihat ke arah Reyna dan Olivia melalui spion. Kedua gadis itu mulai berbincang satu sama lain, membicarakan ketika Olivia menginterview Reyna beberapa bulan lalu.
Tidak terlalu lama, mereka sudah tiba di tempat tujuan. Sebuah bangunan besar dengan tulisan Primark berwarna biru yang terpampang di atas pintu dan jendela-jendela besarnya. Dava dan Sean memutuskan untuk menunggu di depan sementara Reyna dan Olivia masuk ke dalam.
Reyna melihat ke arah jam tangannya, jam 9.30 waktu London yang berarti waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 di Jakarta. Berarti kemungkinan besar teman-temannya di Jakarta sebentar lagi akan selesai kelas. Reyna mengetikkan sesuatu di obrolan kelompok di whatsappnya.
[Guys, gue udah di Primark ya, kabarin kalau mau apa.]
Primark adalah retail fashion yang cukup terkenal di Eropa. Alasannya adalah karena harganya yang murah dan pilihannya yang sangat banyak. Seperti di Primark Oxford Street ini, dia menempati sebuah bangunan besar empat lantai. Di Indonesia, Primark juga sudah memiliki penggemar tersendiri. Buktinya banyak sekali jasa titip Primark dengan tambahan biaya yang membuat satu kaos Primark yang awalnya seharga Thamrin City menjadi seharga Zara.
Handphone Reyna langsung ramai dengan bunyi notifikasi kiriman gambar dari teman-temannya. Bunyi itu menarik perhatian Olivia dan Reyna pun menjelaskannya.
“Jadi kamu ke Primark untuk beliin barang-barang titipan temen-temen kamu?”
“Iya, di Indonesia disebutnya jastip, jasa titip.”
Olivia tertawa kecil. “Kok menarik banget. Aku bantu ya!”
Keduanya kemudian sibuk mencari barang-barang yang dibutuhkan sesuai dengan foto-foto yang dikirimkan teman-teman Reyna. Sekitar dua jam, akhirnya semua barang sudah mereka dapatkan. Reyna dan Olivia memandang keenam keranjang penuh berisi pakaian, sepatu, dan barang lainnya yang ada di lantai sambil tertawa.
Dua jam bersama Olivia membuat Reyna mulai mengenal gadis ini sedikit demi sedikit. Olivia adalah anak tunggal, sama seperti Reyna. Usianya 24 tahun, lulusan Business Management dari Queen Mary University. Ayahnya adalah seorang pemilik usaha media massa terkenal di Inggris, dan Olivia diharapkan untuk melanjutkan bisnisnya itu. Olivia sendiri adalah sosialita dan seorang influencer. Pengikut instagramnya sudah mencapai ratusan ribu. Lagi-lagi, dunia yang sangat berbeda dengan dunia Reyna selama ini.
Olivia sudah terbiasa dengan kemewahan. Semua barang yang dikenakannya adalah barang branded yang sangat mahal. Reyna hanya bisa menahan senyum setiap kali Olivia memekik senang bahwa dress yang dipegangnya hanya seharga 10 poundsterling.
Keduanya menghampiri Dava dan Sean yang cukup kaget melihat banyaknya kantung belanja yang mereka bawa. Reyna dan Olivia saling tatap dan tertawa.
“Terima kasih ya Reyna, ga nyangka belanja di Primark semenyenangkan ini,” bisik Olivia padanya.  
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang sehingga mereka berempat memutuskan untuk menuju daerah Bond Street untuk makan siang. Bond Street terkenal sebagai rumah bagi beberapa brand paling bergengsi di dunia termasuk Burberry, Chanel, Dolce & Gabbana, Jimmy Choo, Louis Vuitton dan banyak desainer dunia lainnya. Beberapa kali Olivia masuk dan keluar berbagai butik, sesekali menenteng keluar tas belanja berisi tas atau sepatu. Reyna hanya bisa mengikuti gadis itu dari belakang, sembari membatin mengapa Sean dan Dava tidak sekalipun protes. Reyna mengingat teman-temannya yang laki-laki yang pasti sudah misah misuh jika harus menemani Reyna dan teman-teman perempuannya berbelanja.
Setelah beberapa lama, akhirnya keempatnya duduk di The Glade at Sketch, salah satu restoran favourite Olivia di Bond Street. Reyna terpana melihat desain ruangan ini yang menyerupai hutan yang ada di negeri dongeng.
Selesai makan, keempatnya berbincang ringan. Olivia dan Sean banyak bertanya mengenai Reyna, dan Reyna mencoba menjawabnya walau ragu karena kehidupannya tentulah tak semenarik mereka. Dava tidak banyak berbicara, hanya merespon sedikit jika ada yang bertanya padanya. Reyna mulai bertanya mengenai pertemanan Sean, Olivia, dan Dava. Sean pun bercerita mengenai pertemanan dirinya dan Olivia sejak kecil. Sesekali Olivia protes karena Sean menceritakan kisah masa kecil nya yang memalukan. Mereka berdua sangat dekat. Dan semenjak Dava pindah ke London untuk melanjutkan studi S2 nya beberapa bulan yang lalu, mereka bertiga seperti tidak dapat dipisahkan.
“Terutama sejak kecelakaan Nathan…”
“JANGAN BICARA TENTANG DIA.”
0 notes
tazkiaedelias · 3 days ago
Text
Chapter 9: Uncomfortable Feeling
Tumblr media
Reyna mencoba mengatur napasnya, mengingat pelajaran relaksasi yang didapatnya di kuliah. Reyna berusaha menekan perasaan tidak nyaman yang muncul agar dapat menikmati perjalanannya hari ini.
Selesai menikmati makan siang mereka, perjalanan dilanjutkan menuju tempat tujuan utama, No 1 Bush Villas. Mereka kemudian berfoto bersama di depan plakat memorial Sir Arthur Conan Doyle sebelum berpindah ke Portsmouth City Museum yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat itu. Mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam di sana, mengagumi koleksi-koleksi Sir Arthur Conan Doyle dan Sherlock Holmes.
Selanjutnya, mereka menuju daerah Old Portsmouth. Di daerah itu mereka akan melakukan walking tour berbalut treasure hunt, yang pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka lakukan seharian penuh kemarin. Namun, treasure hunt kali ini diatur oleh pihak ketiga sehingga kesepuluh orang yang ada, baik peserta maupun pengurus, harus ikut terlibat.
“Saya akan membagi kelompok menjadi lima pasang, perpaduan antara pengurus dan peserta,” ucap Sean memberikan penjelasan singkat mengenai kegiatan yang akan mereka lakukan. Sean kemudian melanjutkan dengan menyebutkan nama-nama tiap pasangan. 
“… Olivia dengan Dava, dan Reyna dengan saya. Ingat, pasangan tercepat akan memenangkan voucher belanja untuk kegiatan bebas besok,” tutup Sean sambil melirik ke arah Reyna.
Seorang pria kemudian muncul di hadapan mereka dan memperkenalkan dirinya sebagai Jack Wells, penyelenggara walking tour ini. Mr. Wells membagikan sebuah buku yang berisi semua petunjuk untuk treasure hunt dan peta daerah Old Portsmouth. Mr. Wells juga menjelaskan bahwa mereka harus mencari kalung berlian berharga yang dicuri dari tempat persembunyiannya di salah satu kedai minuman di Portsmouth.
“Pecahkan petunjuknya, temukan tersangka, nikmati pemandangan kota, dan resapi kisah-kisah lokal yang paling terkenal. Semoga beruntung!” Mr. Wells menutup penjelasannya yang menandakan dimulainya treasure hunt.
Beberapa dari mereka langsung mengikuti petunjuk untuk ke lokasi pertama. Sementara, Reyna dan Sean memilih untuk membaca setiap petunjuk terlebih dahulu dan mengatur perjalanan mereka agar lebih efektif. Setelahnya barulah mereka menelusuri berbagai tempat di daerah Old Portsmouth ini, termasuk keluar masuk berbagai kedai minuman terkenal di Portsmouth seperti The Dolphin, The Wellington, dan The Bridge Tavern.
Setelah satu jam mengelilingi tempat itu, Sean dan Reyna memutuskan untuk beristirahat sebentar di The Bridge Tavern. Mereka mengambil tempat duduk di bagian luar, sambil melihat perahu-perahu yang tertambat di dock.
“Gue seneng hari ini gue bareng lo, Sean,” ucap Reyna.
“Kenapa?”
“Kita cukup mirip kayaknya. Beda banget sama Dava kemarin. Dia bisa ke mana pun yang dia mau, tanpa rencana sedikitpun.” Reyna tersenyum. Dava dan Sean memang sangat berbeda. Bersama Sean, Reyna merasa lebih tenang. Semua hal terkendali. Tidak banyak kejutan, tidak banyak perubahan.
Sean tertawa. “Iya, itu Dava banget. Dia suka kebebasan dan tidak terikat sama sekali. Bisa jadi karena dia masih muda dan ingin menjelajah sebanyak yang dia bisa.“
Reyna mengangguk menyetujuinya.
“Lo tahu ga kenapa dia ambil International Relation padahal dia belajar arsitektur sebelumnya?” tanya Sean yang dijawab dengan gelengan dari Reyna. “Ayahnya pengen dia jadi diplomat, makanya beliau minta Dava kuliah S2 International Relation. Dava setuju-setuju aja karena menurutnya dia bisa tinggal di London selama 2 tahun dan bisa travelling di Inggris bahkan Eropa.”
“Gitu doang alesannya?”
Sean mengangguk lalu tertawa. Reyna sempat berpikir, berapa banyak orang yang akan kesal pada Dava jika mengetahuinya. Dengan pola pikir sesantai itu, dia masih bisa diterima di Oxford University. Sementara, banyak orang yang harus bekerja sangat keras untuk hal itu. Dava memang sangat cerdas, demikian kata Sean. Dava hanya belum mau menyusun rencana hidupnya dan memasang target apapun.
Keduanya masih lanjut berbincang sebentar sampai minuman mereka habis sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan treasure hunt mereka. Semilir angin terasa cukup dingin karena hari sudah menjelang sore. Sean melihat ke arah Reyna yang terlihat sedikit kedinginan. Sean menawarkan jaketnya, tetapi Reyna menolak dengan sopan tawaran itu dan berterimakasih atas kebaikan Sean.
Satu jam kemudian, mereka sudah kembali ke tempat pertama mereka, di depan Nelson Statue. Berarti sudah sekitar dua jam mereka berkeliling daerah Old Portsmouth dalam treasure hunt ini. Takeru dan George adalah tim pertama yang tiba, sementara Reyna dan Sean adalah tim kedua yang tiba. Mungkin jika mereka tidak beristirahat, mereka bisa menjadi yang pertama. Reyna tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, walau sedikit menyesal karena ternyata hadiah yang didapat Takeru adalah gift voucher sebesar 100 poundsterling dari Primark.
Mereka makan malam di The Briny, sebuah restoran seafood yang terletak menghadap Southsea dengan pemandangan yang indah. Saat menunggu makanan, Reyna memutuskan untuk berjalan ke arah pinggir laut. Reyna memandang langit yang berpendar jingga dengan matahari yang perlahan-lahan terbenam di batas laut.
Namun, perasaan mengganjal di hati Reyna tidak juga hilang. “Kenapa kerasa ada yang aneh ya?”
“Apa yang aneh?”
Reyna terperanjat melihat Dava yang sudah ada di belakangnya. Reyna memaki kebiasan think aloud nya dalam hati.
“Ga ada. Emang gue ngomong apa?” jawab Reyna berpura-pura.
Dava tersenyum, dia yakin dengan apa yang tadi didengarnya. Namun, mungkin Reyna tidak ingin menceritakannya dan Dava tidak ingin memaksanya.
Tiba-tiba angin bertiup cukup kencang. Reyna merapatkan jaketnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku, sedikit menyesal mengapa hari ini dia tidak mengenakan jaketnya yang lebih tebal. Dava menyadari apa yang dilakukan Reyna dan segera melepas jaketnya.
“Nih Rey, pake aja. Lo kedinginan kan?” Dava segera menyampirkan jaketnya di bahu Reyna tidak mempedulikan penolakan Reyna, lalu melanjutkan pembicaraan. “Besok lo rencana kemana Rey?”
“Sean ngajak keliling London sih, tempat-tempat yang belum kita datengin kemarin.”
“Berdua?”
“Sejauh ini sih begitu. Sebastian mau ketemu kenalannya di London, sementara Candice masih tentatif. Takeru… dia belum jawab, tapi mungkin dia mau ke Primark, menghabiskan hadiah yang didapatnya tadi.”
“Lo suka Sean kah, Rey?” Pertanyaan tidak terduga dari Dava mengagetkan Reyna.
“Apa sih kok tiba-tiba nanya itu?” jawab Reyna berusaha menghindar, tetapi Dava masih menunggu jawaban dari Reyna. Wajahnya serius dan matanya menatap Reyna lekat-lekat. Lagi-lagi Reyna tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Dava.
“He’s a good man. Tapi buat suka, ya ga mungkin lah gue naksir orang baru sehari dua hari ketemu.”
Yakin, Reyna? Pertanyaan itu muncul di benak Reyna.
Reyna dan Dava sama-sama terdiam, Reyna tidak dapat menepis perasaan canggung di antara mereka berdua. Untunglah tidak untuk waktu yang lama, karena Olivia tiba-tiba menghampiri mereka.
“Dava, aku cariin kamu dari tadi!” ucapnya sambil menyelipkan tangannya di lengan Dava. “Makanannya sudah dihidangkan, masuk yuk!”
Dava mengangguk. Namun sebelum keduanya berbalik, Olivia seperti menyadari sesuatu dan melihat ke arah Reyna.
“Eh, kamu Reyna kan? Sean bilang kalian akan jalan-jalan di kota London besok. Kami boleh ikut ga?”
Reyna mengangguk. “Boleh lah, makin rame kan makin seru.”
Olivia tersenyum manis memperlihatkan lesung pipitnya. Senyuman yang bisa membuat orang yang melihatnya ikut tersenyum. Wajah cantiknya semakin berseri. Entah sudah berapa kali dalam hari ini Reyna berpikir betapa cantiknya Olivia.
Reyna memandang Dava dan Olivia yang berjalan meninggalkannya. Digenggamnya jaket Dava yang masih ada padanya. Perlahan-lahan, Reyna mulai bisa memahami perasaan aneh yang tadi sempat dirasakannya. Perasaan aneh yang kembali dirasakannya, yang membuat dadanya terasa sesak.
Namun sayangnya, dia tahu tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menghilangkan perasaan itu.
1 note · View note
tazkiaedelias · 4 days ago
Text
Chapter 8: Meet Olivia
Tumblr media
Keesokan paginya, sebuah Mercedes Sprinter Minibus sudah menunggu di depan Holmes Hotel. Takeru yang pertama keluar dari hotel dan langsung memasuki minibus yang akan membawa mereka ke Portsmouth tersebut. Tidak lama, Reyna, Candice, dan Sebastian juga keluar dari hotel setelah menyelesaikan sarapan mereka.
Sean dan Dava sudah duduk di dalam minibus bersama dengan beberapa orang yang wajahnya terlihat familier. Reyna kemudian menyadari bahwa mereka adalah dua pria dan satu wanita dengan pin SH yang ditemuinya kemarin, serta wanita muda yang mewawancarainya beberapa bulan yang lalu. Wanita itu duduk di sebelah Dava dan memberi Reyna senyum yang sangat manis.
Wanita itu sangat cantik, hidungnya mancung dengan lesung pipit yang muncul ketika dia tersenyum. Rambutnya kecoklatan, lurus panjang dengan sedikit bergelombang di bawah. Reyna akan percaya jika ada yang bilang bahwa wanita itu adalah bangsawan Inggris, masih berkerabat dengan Kate Middleton.
Reyna kemudian duduk di salah satu kursi kosong di minibus itu. Minibus itu memiliki kapasitas 16 orang, tetapi hanya diisi oleh 10 orang. Masih banyak pilihan kursi yang tersedia walaupun Reyna adalah orang terakhir yang masuk.
Ketika minibus itu mulai bergerak, Sean kemudian berdiri dari tempat duduknya. Sean memperkenalkan keempat pengurus perkumpulan International Fans of Sherlock Holmes yang ikut serta dalam trip mereka ke Portsmouth hari ini. Pria yang mengantarkan sarapan ke kamar Reyna kemarin bernama George, pria di Speedy’s Café bernama Fred, dan wanita yang ditemuinya di Daily Telegraph bernama Emily. Sementara, wanita yang mewawancarai Reyna waktu itu bernama Olivia.
Namanya aja cantik banget, ucap Reyna di dalam hati.
Sean memberikan sedikit penjelasan mengenai tempat-tempat yang akan mereka datangi di Portsmouth. Pertama mereka akan melewati tempat-tempat terkenal di Portsmouth seperti Portsmouth Historic Dockyard dan museum-museum yang mengelilinginya. Setelahnya mereka akan menikmati makan siang sebelum menuju tujuan utama mereka yaitu no 1 Bush Villas dan Portsmouth City Museum, di mana terdapat beberapa koleksi Sir Arthur Conan Doyle. Setelah makan malam barulah mereka akan kembali ke London.
Reyna memandang ke arah luar jendela, mempertimbangkan apakah sebaiknya dia tidur saja karena perjalanan menuju Portsmouth cukup jauh, sekitar dua jam. Rasa letihnya karena kemarin seharian berjalan belum juga reda.
“Boleh gue duduk di sini?”
Sebuah suara mengejutkannya. Sean.
“Silahkan,” jawab Reyna sambil memindahkan tas backpack yang ada di kursi di sebelahnya ke bawah kakinya.
“Gimana kemarin, Reyna?” tanya Sean setelah duduk.
“Seru banget. Berasa London City Tour untuk VVIP,” jawab Reyna. Bagaimana tidak, hotel tempat Reyna menginap memiliki rate per malam yang cukup mahal, dan tempat makan malam mereka kemarin biasanya diperuntukan untuk kalangan atas. Belum lagi perlakuan istimewa yang didapat di berbagai tempat yang dikunjungi mereka.
“Sebagian besar berkat Dava sih. Atau tepatnya, koneksi ayahnya.”
Reyna membetulkan posisi duduknya, tertarik mendengar penjelasan Sean. Ternyata, ayahnya Dava adalah seorang pejabat tinggi Bank Indonesia yang sedang ditugaskan di Inggris. Dava juga cukup sering dibawa ke berbagai perjamuan ataupun acara sosial, sehingga Dava juga mengenal beberapa relasi ayahnya itu. Oleh karena itu, tidak sulit baginya untuk mendapatkan sponsor ataupun perizinan yang dibutuhkan.
Reyna mendengarkannya dengan seksama. Sulit rasanya membayangkan seorang Dava yang cuek dan seenaknya di sebuah acara sosial untuk para pejabat. Sepertinya Sean lebih cocok untuk hal-hal seperti itu.
“Lo kenal Dava dari mana?” tanya Reyna.
“Dari komunitas ini beberapa tahun lalu. Dua tahun lalu dia ke London, kita ketemuan, dan mulai temenan sejak saat itu. Sama Olivia juga.”
“Olivia? Dia yang wawancara gue kemarin kan?”
“You remember!”
Reyna sedikit tertawa. Pastilah Reyna mengingatnya, pertama kalinya Reyna diwawancara oleh orang asing dan taruhannya besar sekali. Apalagi ternyata interviewer nya memiliki wajah seperti Olivia yang sulit untuk dilupakan.
“Oke, cukup tentang gue, Dava, dan Olivia. Lo gimana? Apa yang lo lakuin sehari-hari? Apa yang lo suka?”
Reyna kemudian sedikit menceritakan tentang dirinya. Kesan pertama Sean yang dingin dan misterius, sudah hilang sepenuhnya. Sean yang sebenarnya sangat ramah dan mudah diajak ngobrol. Sepertinya obrolan di antara mereka berdua terus saja mengalir.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphone di saku Sean. Sean membuka pesan yang masuk ke handphone nya itu lalu membacanya. Sepintas muncul sebuah senyum di wajahnya, tetapi segera dihapusnya.
“Reyna, gue ke depan dulu ya. Kita masih punya 40 menit sampai kita tiba di Portsmouth, jadi lo bisa istirahat dulu sebentar,” ujarnya sambil berdiri.
Reyna mengangguk. Apakah terlihat jelas kalau dia sangat lelah? Namun, tubuhnya seperti tidak peduli, karena tidak lama setelah Sean meninggalkan Reyna, mata Reyna langsung terpejam.
Reyna baru terbangun ketika dia merasakan minibus ini semakin melambat dan dia bisa mendengar suara Sean sedang berbicara.
“Bisa dilihat di sebelah kanan kalian …” tunjuk Sean yang sedang berdiri di bagian depan minibus ke arah bangunan di kanan mereka. Reyna membetulkan posisi duduknya dan melihat ke arah bangunan yang ditunjuk. Sebuah bangunan besar berwarna abu-abu yang dikenal dengan nama Mary Rose Museum. Rupanya mereka sudah memasuki Portsmouth dan Sean sedang menjelaskan bangunan-bangunan yang mereka lewati. Berdekatan dengan Mary Rose Museum terdapat berbagai museum lainnya seperti HMS Victory yaitu museum yang didirikan di atas sebuah kapal perang dan National Museum of the Royal Navy. Daerah ini sangat terkenal dan menjadi objek wisata utama Portsmouth. Bisa terlihat ada beberapa turis yang sedang mengambil gambar di daerah ini.
Perlahan, minibus itu berhenti. Sean kemudian menjelaskan bahwa tempat ini adalah quick photo spot untuk mereka. Walaupun mereka tidak masuk ke dalam museum-museum tadi, tetapi berfoto di Portsmouth Historic Dockyard ini merupakan suatu kewajiban bagi turis yang berkunjung ke Portsmouth.
Sekitar sepuluh menit mereka berfoto sekaligus mengistirahatkan kaki, mereka semua kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju restoran untuk makan siang.  Tidak lama, minibus itu kembali berhenti. Kali ini di depan sebuah bangunan khas Inggris, dengan dinding batu bata dan jendela yang tinggi. Bagian atas pintu dihiaskan dengan bunga berwarna putih dan pink. Eksteriornya sangat cantik, membuat Reyna penasaran bagaimana bagian dalamnya. Tulisan “Becketts” tertera di sebuah papan di depannya.
“Kita akan makan siang di sini. Tempat ini mendapat penghargaan sebagai boutique hotel terbaik di Portsmouth dan koki mereka memiliki penghargaan 2 Michelin Star. Biasanya, mereka tidak buka untuk makan siang kecuali di akhir minggu, tetapi mereka membukanya untuk kita,” papar Sean yang disambut dengan decak kagum dari para peserta tur ini.
Satu per satu mereka turun dari minibus dan Reyna kembali menjadi yang terakhir turun. Sean masih menunggunya di depan pintu, lalu berjalan masuk ke dalam restoran setelah memastikan semua orang sudah turun dari minibus.
“Koneksi Dava lagi?” bisik Reyna pada Sean.
Sean tertawa. “Bukan, kali ini Olivia.”
“Wah, ga kaleng-kaleng ya kalian,” cetus Reyna. Reyna merasa seperti berada di lingkaran pertemanan yang jauh berbeda dengan dia dan teman-temannya. Anak-anak pejabat dengan koneksi tingkat atas. Bahkan Reyna tidak pernah memimpikan untuk bertemu dengan orang-orang seperti mereka sebelumnya.
Sean semakin tertawa. “Bukan gue kok. Gue cuma temen dari dua orang hebat.”
Reyna menggeleng dengan pasti dan kembali menegaskan bahwa mereka bertiga sungguh hebat. Termasuk Sean. Sean adalah ketua perkumpulan penggemar Sherlock Holmes terbesar di dunia, tentu saja itu adalah sebuah pencapaian besar. Ditambah, Sean sebentar lagi akan lulus program S2 nya di Oxford. Entah apa namanya kalau bukan hebat.
Rupanya, Becketts memiliki beberapa area ruang makan yang didesain dan didekor dengan sangat cantik. Mengusung tema rustic, Becketts didominasi dengan dinding batu bata dan aksen kayu. Seperti yang sudah disebutkan oleh Sean, saat ini tidak ada pelanggan lain di Becketts selain mereka. Sehingga mereka bisa dengan nyaman berbincang sambil menunggu makanan dihidangkan.
“Jangan kuatir, kita udah pesen makanan halal untuk lo dan Dava,” bisik Sean kepada Reyna yang duduk di sebelahnya dan sedang asik menelusuri buku menu yang sedang dipegangnya.
Reyna mengangguk lalu meletakkan kembali buku menu itu. Ketika Reyna mengedarkan pandangannya, tidak sengaja dia beradu pandang dengan Dava yang duduk di depannya. Mungkin Dava tadi mendengar namanya disebut oleh Sean. Reyna segera mengalihkan pandangannya, baru menyadari bahwa hari ini dia belum berbincang dengan Dava. Tidak ada sapaan dan panggilan "Rey" khas Dava. Tidak ada komentar-komentar usil yang bisa membuat Reyna kesal. Dava terkesan menjaga jarak, entah mengapa.
Rasa penasaran tiba-tiba menyeruak di hati Reyna. Reyna kembali memandang ke arah Dava atau tepatnya ke arah Dava dan Olivia, yang duduk bersebelahan. Olivia sedang berbicara kepada Dava, tubuhnya condong ke arah Dava, dengan wajah yang sangat berseri-seri. Senyum itu tak pernah lepas dari wajahnya. Reyna menduga bahwa hubungan antara Dava dan Olivia lebih dari sekedar pertemanan biasa.
Saat itulah Reyna baru menyadari bahwa Dava masih memandang lurus ke arahnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan Reyna. Keduanya bertatapan selama beberapa lama sampai akhirnya kembali Reyna yang menunduk sedikit salah tingkah. Diambilnya buku menu yang tadi diletakkannya di atas meja.
Reyna tentu tidak sedang membaca buku menu itu. Reyna sedang berusaha mengartikan tatapan Dava tadi. Raut wajah Dava tadi tidak seperti ketika kemarin mereka bersama. Terlalu serius untuk seorang Dava yang impulsif, penuh kejutan, dan selalu iseng terhadapnya. Seakan-akan seperti ada yang ingin Dava sampaikan atau lakukan namun tidak bisa.
Reyna menggeleng. Dia baru mengenal Dava selama satu hari, rasanya tidak mungkin dia sudah mengenal Dava sedalam itu. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Atau hanya efek samping dari kebiasaannya sebagai anak psikologi yang senang mengobservasi dan menganalisis. 
Tiba-tiba jantungnya terasa sakit. Sebuah perasaan tidak nyaman muncul di dadanya. Reyna menggunakan tangan kanannya untuk menekan dadanya, berusaha menghentikan sensasi aneh yang dirasakannya itu.
Gue kenapa?
1 note · View note
tazkiaedelias · 4 days ago
Text
Chapter 7: The Deduction
Tumblr media
Reyna menjelaskan apa yang dia ketahui kepada kelima orang lainnya di dalam restoran, sambil menunggu makanan dihidangkan. Fakta bahwa tanggal 14 ditandai di kalender, buku catatan milik Watson, dan reservasi makan malam atas nama Watson menunjukkan bahwa Watson memiliki rencana yang harus dilakukan pada tanggal 14. Tanggal 14 Oktober dianggap sebagai tanggal kelahiran Sherlock Holmes karena merupakan tanggal buku pertama Sherlock Holmes yang berjudul A Study in Scarlet, terbit. Langham Hotel pernah mempublikasikan berita bahwa hotel tersebut merupakan tempat kelahiran Sherlock Holmes. Hal ini kemudian dibantah karena Langham Hotel adalah tempat Sir Arthur Conan Doyle menyepakati untuk membuat buku kedua Sherlock Holmes, bukan buku pertamanya. Hal ini dapat menjelaskan mengapa Watson membatalkan rencana makan malam di Langham Hotel.
Daftar nama yang didapat dari Scotland Yard serta potongan berita dari Daily Telegraph ternyata berkaitan dengan detail kasus A Study in Scarlet. Buku ini diterbitkan pada tahun 1887 di bawah penerbit Ward, Lock & Co. yang saat ini sudah bergabung dengan Orion Publishing Group, tempat terakhir yang dikunjungi Sebastian, Candice, dan Takeru. Di tempat itu juga mereka mendapatkan petunjuk terakhir berupa sebuah alamat di Portsmouth, yaitu No. 1 Bush Villas, Southsea. Alamat tersebut rupanya adalah tempat Sir Arthur Conan Doyle menciptakan tokoh Sherlock Holmes pertama kalinya. Jadi, besar kemungkinan bahwa pada awalnya Watson berencana untuk merayakan ‘ulangtahun’ Sherlock Holmes di tempat kelahirannya. Namun, Watson melakukan kesalahan dengan mengira bahwa Langham Hotel adalah tempat kelahiran Sherlock Holmes. Sehingga, Watson harus mencari informasi mengenai tempat kelahiran Sherlock Holmes yang sebenarnya.
“Jadi, dari mana kamu bisa tahu bahwa Watson itu menyamar sebagai irregulars?” tanya Candice.
“Pertama, Watson membuat reservasi makan malam untuk 6 orang. Yang pasti untuk dirinya dan Sherlock, kan? Tapi kenapa sisanya hanya 4 orang? Demikian juga surat terakhir dari Sherlock. Hanya kita berenam. Jika itu sudah termasuk dengan Watson, berarti hanya ada 4 irregulars,” terang Reyna.
“Kenapa Dava?” Kali ini Sebastian yang bertanya.
“Ketika pergi berdua bersama Dava, kami hanya dapat 1 surat Sherlock sebagai petunjuk. Awalnya saya pikir memang karena kami datang bersama. Namun, kalian bertiga tetap dapat satu surat masing-masing,” jawab Reyna sambil menunjuk pada beberapa lembar surat Sherlock yang ada di depan Sebastian. “Berarti, Watson adalah salah satu di antara kami berdua. Karena saya bukan Watson, berarti Dava lah Watson nya.”
“Mungkin karena kami tidak pergi dengan kalian jadi kami tidak menyadarinya,” ucap Takeru.
“Gue udah kasih lo beberapa kesempatan ya, lo yang ga ambil,” balas Dava santai.
Sean berdeham untuk menghindari perdebatan di antara Takeru dan Dava. “Pertanyaan terakhir, bagaimana kamu bisa tahu bahwa saya Sherlock?”
“Mudah! Setiap kali ada tulisan ‘temui saya’ di surat, kami akan bertemu kamu sebagai Sean. Sedikit gambling, tapi saya menebak dengan benar kan?”
Sean bertepuk tangan memberikan persetujuannya. “Sekali lagi, selamat Reyna.” Pria itu kemudian melanjutkan dengan memperkenalkan dirinya yang sebenarnya yaitu Sean Hall, ketua dari perkumpulan International Fans of Sherlock Holmes. Dia berperan sebagai Sherlock Holmes dalam 2 hari ini, sementara rekan-rekannya di perkumpulan menjadi orang-orang yang memberikan surat petunjuk. Sean pun menjelaskan bahwa Dava adalah wakil ketua di perkumpulan tersebut. Dava yang baru lulus S1 nya di Indonesia beberapa bulan lalu kemudian melanjutkan pendidikan S2 di Oxford University, di jurusan yang sama dengan dirinya. Bahkan, kegiatan mereka hari ini sebagian besar adalah ide dari Dava.
Hmm, menjelaskan beberapa hal sih, pikir Reyna.
“Selamat ya Rey, single-handedly menyelesaikan misteri hari ini,” bisik Dava yang duduk di sebelah Reyna.
“Kali ini gue beneran ngambek. Gue berasa dibohongin seharian ini,” balas Reyna berpura-pura kesal terhadap Dava.
“Eh gue ga pernah bohong loh. Pertama kali ketemu kan gue bilang gue ikut program Baker Street Irregulars, tapi ga bilang jadi apa. Gue jujur juga kan kalo gue pernah ke London. Tapi lo tadi ga menanyakan pertanyaan yang akan membuat gue sulit menjawabnya tanpa berbohong.”
“Jawabannya lo tu persis kayak cowok buaya terus ke gap bohong. ‘Aku ga bohong kok, kamu yang ga nanya’. Udah biasa jadi buaya ya dari lama?”
Dava tertawa. Dia tahu Reyna tidak benar-benar marah padanya, dan hal itu memang benar. Reyna menyadari bahwa dia yang tidak menanyakan pertanyaan yang tepat dan terlalu berfokus pada misteri yang ada di depan matanya. Seharusnya, Reyna bisa bertanya kenapa mereka tidak berada dalam 1 pesawat yang sama dari Jakarta. Atau benar-benar mempertanyakan bagaimana Dava bisa mengetahui dengan pasti tempat Daily Telegraph yang bukan merupakan tempat wisata di London, tanpa melihat peta. Dibandingkan rasa kesal, Reyna lebih merasa kagum pada kemampuan Dava membuat rencana kegiatan hari ini. Seorang Dava, yang terlihat tidak suka membuat rencana dan selalu impulsif, dapat membuat rencana kegiatan yang sangat detail seperti ini.
Tidak lama, hidangan makan malam mereka disajikan oleh pelayan. Berbagai makanan klasik Inggris dihidangkan, dari beef wellington, steak and kidney pudding, pan seared halibut, sampai hidangan special Simpson’s in the Strand yaitu daging yang dihidangkan langsung dari troli. Keenam orang itu menikmati makanan yang tersedia. Entah karena hari ini sungguh melelahkan dan Reyna sangat lapar, tetapi pan seared halibut yang dimakan Reyna terasa sangat lezat. Sepertinya, standar fish and chips Reyna di Indonesia akan jauh meningkat setelah malam ini.
Ketika semua sudah menyelesaikan makan malamnya, Sean memberikan informasi bahwa besok mereka akan pergi ke Portsmouth, untuk mengunjungi kota kelahiran Sherlock Holmes. Di Portsmouth lah Sir Arthur Conan Doyle memiliki ide untuk menciptakan tokoh Sherlock Holmes dan menulis dua buku pertamanya sebelum pindah ke London. Beberapa orang pengurus perkumpulan Sherlock Holmes juga akan ikut bergabung dengan mereka esok hari.
Reyna terus memandangi langit malam kota London dari dalam mobil, dalam perjalanan mereka kembali ke hotel. Candice bersamanya, dengan Dava yang mengemudikan mobil tersebut. Masih banyak pertanyaan di benak Reyna yang ingin ditanyakannya kepada Dava. Namun, tubuhnya sudah terlalu letih malam ini. Satu-satunya yang diinginkannya saat ini adalah langsung merebahkan dirinya di tempat tidur.
“Tidur aja Rey kalau capek. Lumayan kok lima belas menit,” ucap Dava yang menyadari kondisi gadis yang duduk di sebelahnya itu.
Reyna menggeleng, walau sedetik kemudian dia tidak kuasa menahan keinginan untuk menguap.
Dava menahan senyumnya. “Gapapa kok Rey, it’s a long day today.”
Reyna kembali menggeleng.
Duh, gue selalu ngelakuin hal bodoh di depan Dava, pikir Reyna. Reyna kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil. Reyna bisa merasakan wajahnya yang semakin memerah, hanya bisa berharap Dava tidak menyadarinya.
1 note · View note
memoriesfrombooks · 5 days ago
Link
Wendy Francis's book Summertime Guests, with its lovely water side summery cover, is set not on a beach but in an iconic hotel in the heart of Boston. The water views are of the bay. What I expect to be a summer beach read mystery turns into something else. It is still an easy, quickly read summer beach read but about family, relationships, and emotions that leaves much to relate to and much to think about.
Reviewed for NetGalley and a publisher's blog tour.
0 notes
pocketcanvases · 7 days ago
Photo
Tumblr media
Tumblr media
Tumblr media
Tumblr media
Tumblr media
Tumblr media
Tumblr media
Tumblr media
Tumblr media
literary moodboards ★ beach read - emily henry (x)
“when you love someone, you want to make this world look different for them. to give all the ugly stuff meaning, and amplify the good. that’s what you do. for your readers. for me. you make beautiful things, because you love the world, and maybe the world doesn’t always look how it does in your books, but... i think putting them out there, that changes the world a little bit. and the world can’t afford to lose that.”
0 notes
tazkiaedelias · 8 days ago
Text
Chapter 6: Trapped and Trip
Tumblr media
Reyna kembali terjebak bersama Dava. Sebastian dan Candice sepakat untuk meninggalkan Reyna dan Dava, sementara mereka akan pergi ke tempat lainnya bersama Takeru. Namun, semengesalkan apapun Dava, entah mengapa Reyna merasa tenang menjelajahi kota London bersamanya.
“Lo tu pernah ke London ya?” tanya Reyna ketika mereka sedang berjalan kaki menuju New Scotland Yard, tempat tujuan mereka.
“Pernah, kok lo tau?”
“Lo kayak udah terbiasa naik turun tube, tau harus belok kemana, gitu-gitu,” jawab Reyna. Sebenarnya pertanyaan ini sudah ada di benak Reyna sejak awal. Jika Reyna terlihat seperti turis yang sedikit-sedikit harus memastikan dia berada di arah yang tepat, Dava terlihat sangat terbiasa dengan daerah ini.
“Itu namanya cowo lebih fasih baca peta dan petunjuk jalan, Rey.”
“Ih, gue juga kok bisa baca peta. Tapi tetep aja gue butuh untuk ngebuka peta, sementara lo kayak udah tau di mana.”
“Feeling gue kuat, Rey. Kayak feeling aku ke kamu.”
“DAVA! Lo becanda mulu ah.”
“Lo serius mulu,” balas Dava. Namun, kemudian Dava menyadari wajah Reyna semakin memerah. “Rey, kok lo blushing sih?”
Reyna tau pasti bagaimana tampilan wajahnya sekarang. Semerah kepiting rebus! “Ga tau ah! Gue izin ngambek.” Reyna langsung berjalan mendahului Dava.
Dava makin tertawa terbahak-bahak. Ada sih mau ngambek pake izin. Dava kemudian menyusul Reyna yang mulai semakin menjauh. Ga lucu kan kalau Reyna kelewatan tempat tujuannya karena lagi kesal terhadap Dava.
Jarak New Scotland Yard dengan tempat makan siang mereka tadi tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Dengan cepat, mereka menemukan petunjuk berikutnya. Selembar kertas berisi daftar nama, dan tulisan ‘Daily Telegraph’ di bagian bawah yang diberi garis bawah. Reyna dan Dava menebak bahwa tujuan mereka berikutnya adalah kantor Daily Telegraph yang terletak kurang lebih setengah jam berjalan kaki dari tempat mereka saat ini.
Reyna terus menatap daftar nama itu. Nama-nama yang tertulis itu terasa familiar, tetapi dia belum bisa mengingatnya.
“Kenapa Rey?” tanya Dava yang melihat wajah serius Reyna.
“Familiar banget sama nama-nama ini, tapi di mana ya liatnya. Coba gue cari di internet deh ya.” Reyna mengeluarkan handphone nya dan baru menyadari bahwa baterai handphone nya sudah habis. Mungkin dia terlalu banyak menggunakannya ketika di Langham Hotel. Reyna merogoh tas nya, mencari powerbank miliknya.
“Duh! Powerbank nya ketinggalan! Tadi buru-buru berangkat malah lupa powerbank masih dicharge di kamar.” Reyna menyesali tadi terlalu bersemangat dan terpengaruh surat SH yang diterimanya pagi ini sehingga tidak memeriksa berkali-kali barang-barang yang ada di tasnya.
Dava menunjukkan hp nya yang juga tidak menyala. “Sama, gue juga.”
“Yah jadi gimana dong? Kok lo ga panik sih Dav? Kalau balik ke hotel sempet ga ya?”
“Ga usah balik, kita jalan santai aja ke Daily Telegraph, mungkin jawabannya ada di sana.”
Reyna kemudian mencari sesuatu dari tas nya. “Kalau ga jauh-jauh dari sini, bisa lah ya!” ucapnya sambil menunjukkan peta kota London serta peta jalur tube yang sudah dicetaknya.
Dava kembali tersenyum melihat persiapan yang sudah dilakukan Reyna. Diambilnya peta yang dipegang Reyna lalu dilipat dan dimasukkan ke dalam tas nya sendiri. “Udah, kali ini anggap aja lo lagi ikut trip versi gue. Nikmatin jalan. Ga usah pusing arah. Lo percaya gue kan?”
Reyna sempat terdiam sebelum mengangguk. “Ini cuma karena lo jelas-jelas make tanda pengenal Sherlock Holmes ya. Kalo engga, gue ga mungkin percaya sama orang yang ga gue kenal loh.”
Dava tertawa kecil. Ingin rasanya Dava kembali meledek Reyna untuk membuatnya tersipu malu lagi. Namun, kali ini Dava menahan dirinya. Dava ingin Reyna juga menikmati perjalanannya seperti sedari tadi Dava menikmati perjalanan ini.
Ternyata, definisi trip menurut Dava adalah sebanyak mungkin membelokkan tujuannya ke tempat-tempat menarik. Misalnya, Big Ben dan Westminster Abbey yang terletak tidak jauh dari New Scotland Yard. Terkadang Dava menjelaskan hal-hal trivial mengenai tempat-tempat itu kepada Reyna. Beberapa kali mereka berhenti untuk mengabadikan momen itu. Sebagian besar memang Reyna yang diambil gambarnya oleh Dava. Walau akhirnya Reyna berhasil membujuk Dava untuk selfie di taman dengan background Big Ben, sang ikon kota London. “Kenang-kenangan,” kata Reyna.
Dava tidak berhasil membujuk Reyna untuk membelokkan perjalanan mereka ke seberang sungai Thames, untuk menaiki London Eye. Walaupun London Eye sebenarnya merupakan salah satu wishlist terbesar Reyna, tetapi dia tidak ingin ke sana di saat dia harus terburu-buru seperti ini. Namun, Reyna setuju untuk berbelok ke Buckingham Palace termasuk ke St. James Park dan Buckingham Palace Garden. Reyna dan Dava juga mampir ke Mayfair Islamic Center, mencari musholla untuk sholat Dzuhur dan Ashar. Perjalanan mereka yang seharusnya hanya setengah jam berubah menjadi hampir dua jam. Reyna merasa kakinya mulai letih dan keringatnya mulai menetes. Namun, senyum tidak pernah lepas dari wajahnya. Ternyata, bertualang ala Dava sangat menyenangkan untuk Reyna.
“Capek ga Rey?” tanya Dava setelah mereka selesai berfoto di depan Buckingham Palace. “Dari sini ke Daily Telegraph ga sampe 15 menit sih, tapi kita bisa istirahat dulu kalau lo mau.”
Reyna menggeleng. “Gue gapapa kok,” jawab Reyna sembari menyeka keringat yang ada di pelipisnya.
Dava tersenyum melihat gadis yang tidak ingin merepotkan dirinya itu. “Tapi mau minum atau es krim dulu ga?” tanya Dava sambil menunjuk ke arah sebuah gerai Shake Shack yang ada di dekat mereka.
“Mau banget!” Mata Reyna berbinar gembira.
Keduanya kemudian memesan minuman, vanilla shakes untuk Reyna dan rootbeer floats untuk Dava, dan meminumnya sambil melanjutkan perjalanan mereka menuju Daily Telegraph. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan seorang wanita yang sedang terbenam dalam tumpukan buku di ruang baca Daily Telegraph dan memiliki pin SH. Wanita itu tentu menarik perhatian mereka di antara para pekerja Daily Telegraph yang menggunakan laptop. Wanita itu kemudian memberikan mereka petunjuk yang mereka butuhkan.
Sebuah potongan berita dari koran lama yang tidak diketahui terbit di tahun berapa, dan sebuah amplop SH. Reyna tidak terlalu bisa membaca potongan berita itu karena menggunakan ejaan Inggris lama, tetapi Reyna merasa dia pernah membaca berita itu sebelumnya. Dava kemudian membuka surat dari Sherlock Holmes dan membacakannya untuk Reyna.
[Dear irregulars,
Let’s meet and have a dinner at my favourite restaurant. Bring my very valuable item. Remember, the six of us, no more, no less. [1]
Sherlock Holmes.]
“Simpson’s in the Strand!” seru Reyna dan Dava bersamaan. Restoran ini muncul beberapa kali dan disebutkan sebagai restoran kesukaan Sherlock Holmes. Restoran ini terletak di The Strand, tidak terlalu jauh dari tempat makan siang mereka tadi.
“Tapi menurut lo dua kalimat terakhir bagaimana? Kita belum tau Watson ada dimana kan.”
Reyna tersenyum. “Gue tau kok.”
“Oh ya? Di mana?”
“Ra-ha-si-a.”
“Rey, lo jangan ikutan Takeru deh maunya kerja sendiri.”
Reyna tertawa puas, tetapi tetap tidak ingin memberitahukan Dava apa yang diketahuinya. Dava pun akhirnya tidak banyak bertanya lagi dan keduanya segera menuju Simpson’s in the Strand.
Ketika mereka sampai, Sebastian, Candice, dan Takeru sudah berada di depan restoran itu. Kelimanya saling berbagi informasi yang didapat dalam perjalan mereka. Informasi yang baru didapatkan Reyna semakin memperkuat asumsinya. Reyna tersenyum. Diliriknya Dava yang juga sedang melihatnya.
Tidak lama, Sean muncul dari dalam restoran.
“Selamat malam, irregulars. Sherlock sudah menunggu,” sapa Sean.
“Selamat malam, Sherlock,” jawab Reyna sambil tersenyum lebar. “Dan ini sahabat Anda, John Watson,” lanjutnya sambil menepuk bahu Dava.
-- --
[1] “Mari bertemu dan makan malam di restoran favorit saya. Bawa hal yang sangat berharga untuk saya. Ingat, hanya kita berenam, tidak lebih, tidak kurang.”
1 note · View note
tazkiaedelias · 10 days ago
Text
Chapter 4: Clues
Tumblr media
Reyna dan Dava keluar dari Sherlock Holmes Museum lalu menyapa Sean yang masih ada di depan pintu masuk. Sepertinya memang benar masih ada irregulars yang belum datang. Reyna melihat ke jam tangannya yang menunjukkan pukul 9.45.
“Rey, lo gapapa cuma jalan berdua? Mau nunggu yang lain atau malah mau jalan sendiri aja?” tanya Dava pada Reyna.
“Gue santai kok, ga masalah gimana aja,” jawab Reyna. Reyna kemudian membuka handphone nya untuk mencari lokasi Speedy’s Café yang sebenarnya. “Ga jauh sih ni kalau dari peta, ga sampe 30 menit kalau jalan kaki. Kalau naik tube sekitar 15 menit. Gimana?”
“Gue jalan juga ga masalah kok kalau lo kuat,” jawab Dava. Dava kembali memperhatikan gadis bernama Reyna ini. Wajahnya hanya dipulas make up tipis, cukup untuk membuat dirinya tidak terlihat pucat. Pakaian yang dikenakan Reyna juga sederhana dan sesuai dengan musim gugur di London; turtle neck hitam, coat khaki di atas lutut, jeans hitam, sneakers, dan backpack berukuran sedang. Reyna lebih terlihat seperti mahasiswa asli London dibandingkan turis, karena biasanya turis akan memilih pakaian yang lebih eye-catchy. Reyna juga tidak terlihat seperti gadis-gadis Jakarta yang sudah dimanjakan dengan kendaraan pribadi. Setidaknya, sepertinya Reyna tidak akan meminta untuk naik taksi kemana-mana.
Reyna berpikir sejenak. “Gue sih bisa-bisa aja, tapi karena gue belum ada bayangan hari ini akan secapek apa atau sejauh apa perjalanan kita, mungkin ada baiknya naik tube dulu.”
“Oke. Yuk.”
“Eh tunggu. Gue periksa dulu ngelewatin berapa stasiun.” Reyna kembali mencari beberapa hal di internet sebelum memasukkan kembali hp nya ke saku jeansnya. “Dari sini cuma 2 stasiun jaraknya. Kita nanti berhenti di Euston Square setelah ngelewatin Great Portland Street. Bisa pakai line yang mana aja, baik yang orange, pink, atau ungu.”
Dava menatapnya kagum. “Lo harus tau itu semua dulu ya sebelum jalan?”
“Ya iyalah, gue kan ga mau nyasar atau bingung ini itu dan malah jadi ga nikmatin jalan-jalan gue. Emang lo engga?”
Dava menggeleng sambil tertawa. “Yang penting gue tau apa tujuan gue, terus dengerin aja pengumumannya. Ya kalau kelewatan tinggal muter lagi.”
“Bukannya itu jadi lebih lama?”
“Kenapa harus buru-buru?”
Reyna terdiam. Tidak ada gunanya berdebat mana yang lebih baik mengenai hal ini dengan Dava. Pertama, perjalanan masih panjang, saat ini belum juga jam 10 pagi. Ga lucu kan kalau mood nya udah berantakan. Kedua, Reyna paham banget dengan individual differences, sesuatu yang selalu ditekankan oleh dosen-dosennya di psikologi. Jadi, selama itu tidak merugikannya, Reyna merasa tidak ada gunanya untuk mempermasalahkannya.
“Yaudah iya. Kalo dibahas malah jadi lama,” pungkas Reyna.
“Eh, tapi tadi gue ngomong itu murni memuji lo, kok. Gue kan ga terbiasa kayak lo, jadi kagum aja dengan lo yang bisa merencanakan segitunya. Beneran, ga ada maksud lain. Lo percaya gue kan?”
Apa yang diutarakan Dava membuat Reyna tidak bisa menahan senyumnya. Suara Dava terdengar panik, mungkin takut membuat suasana menjadi canggung nantinya. Ditambah lagi dengan mata dan garis bibir Dava yang terlihat benar-benar khawatir yang membuat Reyna tentu tidak bisa kesal.
“Iya, iya, percaya. Yuk jalan.”
Perjalan menuju Speedy’s Café tidak menemui hambatan, sesuai dengan apa yang Reyna sudah perkirakan. Bahkan Dava juga cukup membantu karena bisa dengan cepat menemukan jalan menuju platform yang tepat di Baker Street station. Ternyata, Baker Street station ini cukup luas karena dilewati lima jalur kereta, Bakerloo line, Jubilee line, Circle line, Hammersmith & City line, dan Metropolitan line. Namun, Reyna merasa tidak efektif untuk menghapal nama jalur nya, maka dia lebih memilih untuk menggunakan warna yang sesuai dengan peta. Misalnya, jalur pink yang dinaikinya saat ini untuk menandakan Hammersmith & City line. Oyster card yang diberikan tadi pagi juga sudah terisi saldo yang cukup banyak untuk perjalanan mereka.
Tidak lama, mereka sudah sampai di Speedy’s Café. Kanopi berwarna merah dengan tulisan Speedy’s Sandwich Bar & Resto yang familiar menyambut mereka. Ketika Dava ingin membuka pintu, seorang pemuda Asia membuka pintu dari dalam. Pandangan Reyna langsung tertuju pada badge irregulars yang dikenakan pemuda itu.
“Irregulars juga ya? Sudah ketemu petunjuk di tempat ini?”
Pemuda Asia itu melirik ke arah Reyna dan mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia pun bergegas beranjak pergi dari tempat tersebut.
Dava menoleh ke arah Reyna yang berada di belakangnya dan Reyna mengangkat bahu.
“Ga sopan banget sama cewe. Padahal tadinya mau gue ajakin barengan,” ucap Dava agak kesal.
“Lebih suka jalan sendiri, mungkin. Atau ga sadar kalau kita irregulars juga. Atau ga terlalu paham bahasa Inggris,” jawab Reyna berusaha berpikir positif.
“Jelas-jelas dia paham pertanyaan lo.”
“Udah, udah, masuk aja yuk,” pungkas Reyna agar Dava bisa melupakan kejadian tadi.
Seorang pemuda dengan seragam Speedy’s Café menyapa mereka. Sebuah pin SH juga tersemat di bajunya, sehingga Reyna dan Dava yakin mereka berada di tempat yang tepat. “Selamat datang, apa yang ingin Anda pesan?”
Reyna menyikut pelan Dava lalu berbisik, “Ini kita pesen beneran? Gue masih kenyang sama sarapan tadi.”
“Apakah Anda punya petunjuk untuk kami?” tanya Dava.
“Mohon maaf kami tidak memiliki menu tersebut. Tapi Anda bisa melihat-lihat menu yang kami punya di meja itu,” jawab pemuda itu sambil menunjuk ke arah sebuah meja yang kosong.
Reyna dan Dava pun menuju meja yang ditunjuk. Keduanya pun membaca lembaran kertas menu yang diletakkan di meja tersebut.
“Kayaknya kita beneran harus pesen deh. Kalo lo masih kenyang, kita pesen satu aja nanti gue yang makan. Atau lo kalau mau juga ambil aja ya.”
Reyna mengangguk sambil membaca menu yang ada di depannya. Terlintas di pikirannya bahwa Dava ini unik, terlihat cuek dan impulsif, namun sangat tenggang hati terhadap lawan bicaranya. Sedari tadi Dava terus mempertimbangkan bagaimana keinginan Reyna sebelum melakukan sesuatu.
“Sherlock breakfast terlalu jelas ga sih? Kayaknya ga mungkin sesederhana itu.” Reyna membaca lagi menu tersebut, kali ini lebih perlahan dan memeriksa setiap katanya. “Tunggu. Ini ada yang salah ga sih? Di menu jacket potato, tulisannya beans and clueslaw? Bukannya harusnya coleslaw? Ini bukan typo kan?”
Dava juga melihat ke arah menu yang ditunjuk oleh Reyna
Reyna tergelak. “Serius ya kalau ini beneran petunjuknya dan bukan karena typo, ngakak abis gue. Berasa jokes bapak-bapak ga sih?”
Dava ikut tertawa melihat tulisan di menu tersebut. Dava kemudian membuka handphone nya untuk memeriksa menu Speedy’s Café yang ada di internet. “Iya, ini petunjuknya! Menu aslinya tulisannya bener nih,” ujarnya sambil menunjukkan menu Speedy’s Café di handphone nya.
Reyna masih juga tertawa sampai Dava sudah kembali dari memesankan menu tersebut.
“Rey, masih?”
“Ya abis gimana dong. Buat gue itu lucu soalnya. Receh banget ya gue.” Reyna menyeka air mata di ujung matanya dengan buku jarinya. “Ya Allah gue sampe nangis.”
“Selera lawakan lo gini ya, ternyata,” ucap Dava sedikit takjub dengan gadis yang duduk di depannya itu. Hanya satu jam bersama gadis itu, Dava sudah menemukan berbagai hal menarik mengenainya. Reyna yang sangat well-planned, berbeda sekali dengan dirinya yang lebih sering impulsif. Reyna juga lebih tenang, tidak mudah terpancing emosinya, dan selalu berusaha berpikir positif. Reyna juga sangat cerdas, sedari tadi Reyna lah yang berhasil menemukan petunjuk berkat pemikirannya maupun observasinya. Dan kali ini, Dava melihat sisi lain Reyna yang… receh.
“Silahkan pesanan Anda.” Tidak lama, pelayan tadi muncul kembali dan meletakkan sebuah piring di depan Reyna dan Dava. Namun, bukan makanan yang mereka dapat, melainkan sebuah buku catatan. Dava mempersilahkan Reyna mengambil buku catatan tersebut.
“Ini notes nya Watson. Di sini ada beberapa catatan mengenai beberapa kasus Sherlock. Jadi sepertinya benar, kasus ini kasus penculikan, mungkin terkait dengan salah satu kasus yang tertulis di notes ini,” ujarnya lalu memberikannya kepada Dava.
“Kenapa ga ada amplop SH ya?” tanya Dava yang masih membolak balik buku catatan yang dipegangnya.
Itu adalah sebuah pertanyaan yang juga sempat terlintas di benak Reyna. Biasanya, orang dengan pin SH akan memberikan mereka sebuah surat dari Sherlock Holmes. Reyna melihat ke sekeliling, mencari apakah ada orang lain yang mengenakan pin SH. Namun, tidak ada orang lain di tempat itu selain Reyna, Dava, dan pelayan dengan pin SH itu.
“Ini ada artinya ga?” Dava menunjuk ke arah tulisan Langham dan angka 14 yang tertera di sebuah halaman dalam buku catatan itu.
Reyna sedikit terdiam, sebelum akhirnya teringat sesuatu. “Ikutin petunjuknya! Inget ga surat Sherlock tadi tulisannya gimana? Ikuti petunjuknya. Jadi memang apapun yang kita temukan di buku ini adalah petunjuk tempat selanjutnya.”
“Bener sih. Berarti ini antara Langham Road no. 14, atau…”
“Langham Hotel tanggal 14?”
Dava tersenyum ke arah Reyna.
Bener kan gadis ini sangat cerdas.
1 note · View note
brionymarshallauthor · 10 days ago
Text
Editing in my “pop up” office.
Hello everyone! Spring is finally here, restrictions are easing in the UK and I’ve sent the final draft of my next novel to my publisher! 💃🏻💃🏻💃🏻 I can definitely feel the sun breaking through those clouds. ☀️ However, before my world goes back to normal, I wanted to talk a little about the time I got to spend during lockdown creating a “pop up office” and how that helped me in these crazy…
Tumblr media
View On WordPress
0 notes
tazkiaedelias · 11 days ago
Text
Chapter 3: Meet Dava
Tumblr media
Malam harinya, Reyna hampir tidak bisa tidur. Reyna tidak tahu sama sekali apa yang akan dihadapinya. Tidak ada itinerary, tidak diinfokan juga siapa keempat orang lain yang juga ikut bersamanya. Namun, ketidaktahuannya ini membuatnya semakin bersemangat. Sekitar pukul 6, Reyna terbangun untuk sholat subuh. Cukup siang untuk ukuran Jakarta, namun ini musim gugur di London yang berarti matahari baru terbit pukul 7.20. Selepas sholat subuh, Reyna sudah tidak bisa memejamkan matanya lagi. Reyna memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap.
Tepat pukul 7.30 pagi, terdengar suara ketukan di pintu kamar.
“Room service!”
Reyna segera membuka pintunya. Seorang pria dengan seragam hotel menyerahkan sebuah nampan yang berisi sarapan dan beberapa benda lain kepada Reyna. Sebuah pin bertuliskan SH tersemat di kerah baju pria itu. Reyna mengucapkan terima kasih kepada pria itu lalu menutup pintunya. Di dalam kamar, Reyna memeriksa nampan yang diterimanya. Sepiring sarapan khas Inggris berisi sosis, telur, dan kacang, sebuah badge, oyster card yang bisa digunakan untuk tube dan bus, serta sebuah amplop dengan huruf SH di bagian atasnya.
[Dear Irregulars,
Wear your badge and meet me at 221B Baker Street. Hurry! [1]
Sherlock Holmes.]
Kata ‘hurry’ membuat Reyna segera menyelesaikan sarapannya dan memasukkan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan ke dalam backpacknya. Disematkannya badge yang ada di nampan tersebut, badge tersebut lebih besar dari pin bertuliskan SH yang dilihatnya di kerah resepsionis dan pria tadi. Badge tersebut lebih mirip dengan lencana kepolisian Inggris, tetapi saat Reyna memeriksanya dengan seksama, terdapat siluet Sherlock Holmes dan nama lengkap Reyna di sana.
Reyna bergegas keluar kamarnya menuju tempat yang tertulis dalam surat. 221B Baker Street terkenal sebagai alamat Sherlock Holmes, walaupun pada kenyataannya tidak ada rumah bernomor itu di Baker Street. Namun, semua fans Sherlock Holmes tentu tahu jika 221B Baker Street juga berarti Sherlock Holmes Museum. Malam sebelumnya, Reyna sudah memeriksa jalur antara Holmes Hotel dan Sherlock Holmes Museum, berjaga-jaga jika harus ke sana. Lagi-lagi, perkiraan Reyna tepat.
Tidak sampai lima menit, Reyna sudah sampai di depan Sherlock Holmes Museum. Reyna melihat sesosok pria Inggris yang tak asing baginya.
“Selamat pagi, Sean!” seru Reyna.
Sean tersenyum. “Pagi, Reyna,” balasnya sambil menyerahkan sebuah amplop.
Reyna segera membukanya dan membaca pesan yang ada di dalam surat tersebut.
[Dear Irregulars,
A very valuable item is missing from my house. Find the clues. I’ll see you soon. [2]
Sherlock Holmes.]
Reyna memasukkan kembali surat yang dibacanya ke dalam amplop, lalu disimpan di dalam tasnya. “Sean, apa kamu akan ikut serta dengan kami sepanjang hari?”
“Tidak, hanya sampai semuanya tiba di tempat ini.”
Reyna mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya memasuki Sherlock Holmes Museum. Sherlock Holmes Museum merupakan museum tiga lantai yang dibuat khusus untuk para pecinta Sherlock Holmes, baik literatur, TV shows, maupun film. Disusun layaknya rumah Sherlock Holmes, dari ruang tamu tempat Sherlock Holmes bertemu dengan kliennya, laboratorium Sherlock, maupun kamar dr. Watson.
Reyna memperhatikan setiap sudut di tiap ruangan dengan seksama. Mencoba mencari sesuatu yang seharusnya ada di tempatnya atau sesuatu yang terlihat seperti bekas dipindahkan. Namun, Reyna belum mendapatkan petunjuk apapun. Reyna akhirnya kembali lagi ke lantai satu, di ruang tamu rumah tersebut.
“Reyna, coba kerja cerdas, jangan cuma kerja keras. Apa yang bisa dianggap Sherlock Holmes sebagai very valuable item? Apa benda yang paling berharga buat Sherlock Holmes?” gumam Reyna pada dirinya sendiri. Terkadang Reyna tidak menyadari kebiasaannya think aloud, mengucapkan atau sekadar menggumamkan apa yang sedang dia pikirkan.
“His drugs?” [3]
Reyna terperanjat mendengar sebuah suara yang tidak dikenalnya. Reyna menoleh dan melihat seorang pemuda yang sudah berdiri di dekatnya. Pemuda itu memiliki wajah seperti orang Asia atau setidaknya memiliki turunan Asia. Reyna kemudian menyadari bahwa pemuda itu menjawab pertanyaan yang digumamkannya dalam bahasa Indonesia.
“Eh, orang Indo ya?” tanya Reyna.
Pemuda itu mengangguk lalu mengulurkan tangannya ke arah Reyna. “Gue Dava. Ikut program Baker Street Irregulars juga kayak lo,” jawabnya sambil menunjukkan badge nya. Badge yang serupa dengan badge yang tersemat di baju Reyna, tetapi nama Dava Hernoto tertulis di badge tersebut.
“Oh, hai. Gue Reyna. Wow, dua orang Indonesia dari lima orang terpilih? Berapa kemungkinannya?” seloroh Reyna sambil memandang lawan bicaranya itu. Dava bertubuh tinggi, walau mungkin sedikit lebih pendek jika dibandingkan dengan Sean. Rambut hitamnya bergaya sedikit acak namun pas membingkai wajahnya. Wajahnya sedikit mengingatkannya pada seorang artis Thailand yang bernama Bright. Jika bukan karena Dava bisa merespon Reyna yang menggunakan bahasa Indonesia, mungkin Reyna akan berpikir bahwa Dava memiliki keturunan Thailand.  
Dava mengangkat bahunya. “Eh tadi lo lagi mikir apa, Rey? Boleh gue panggil Rey?”
Reyna membelalakkan matanya. “Kok lo tau panggilan gue? Biasanya orang manggil gue Reyna, tapi yang kenal deket sama gue manggil gue Rey.” Reyna sedikit terkejut.
“Gue cuma kepikiran Rey di Star Wars aja sih,” jawab Dava yang kali ini ganti memperhatikan Reyna. Gadis di depannya ini memang memiliki beberapa kesamaan dengan Rey Skywalker. Ketika tadi Reyna sedang berpikir, wajahnya terlihat sangat serius yang membuatnya terlihat galak. Namun, wajahnya berubah berseri-seri ketika dia tersenyum dan mulai berbicara. Rambut middle length nya juga sangat mirip dengan Daisy Ridley, sang pemeran Rey Skywalker, pada salah satu poster The Last Jedi.
Ingin rasanya Reyna bertanya lebih lanjut mengenai hal itu, namun apa yang sedang ada di otaknya saat ini jauh lebih penting. “Oh iya, terkait kasus. Tadi gue cuma mikir kayaknya hal paling pentingnya Sherlock itu bukan sebuah barang seperti asumsi kita.”
“Jadi?”
“Watson. John Watson adalah hal yang paling penting dan berharga buat Sherlock kan selama ini.”
Jawaban Reyna yang meyakinkan membuat Dava mengangguk setuju. “Masuk akal sih, jadi Watson diculik gitu ya? Berarti mungkin petunjuknya ada di kamar Watson.”
Reyna dan Dava bergegas naik ke kamar Watson yang terletak di lantai 2. Mereka disapa oleh salah seorang irregulars yang juga sudah tiba di museum tersebut. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Sebastian Rejman, dari Finland. Dengan ramah, Sebastian menjawab pertanyaan Reyna dan Dava, termasuk menjelaskan bahwa di ruangan tersebut tidak ada hal yang aneh. Semuanya rapi, tidak seperti ruangan yang telah dimasuki pencuri. Atau penculik, timpal Reyna dalam hati. Satu-satunya yang tampak seperti petunjuk adalah sebuah kalender meja di meja tulis Watson, dengan tanggal 14 Oktober yang dilingkari.
Tepat setelahnya, Reyna melihat seorang wanita tua yang berjalan masuk ke kamar Mrs. Hudson.
“Mrs. Hudson?” sapa Reyna.
Wanita tua yang disapa Reyna itu berbalik. Saat itulah Reyna melihat pin yang tersemat di bajunya. Reyna tersenyum mengetahui makna pin tersebut.
“Apakah Anda memiliki surat dari Sherlock?”
Wanita tua itu terdiam sejenak sebelum mengambil sesuatu dari saku. Sebuah amplop dengan tulisan SH di atasnya.
Reyna berterimakasih lalu membawa surat itu kembali ke kamar Watson. Reyna membacakan isi surat itu kepada Dava dan Sebastian. “Temukan petunjuk di kafe bawah lalu ikuti petunjuknya.”
“Di bawah? Tapi tidak ada kafe di gedung ini,” sahut Sebastian setelah mendengar surat yang dibacakan oleh Reyna tersebut.
“Mungkin ga maksudnya sandwich bar yang ada di TV show?” tanya Reyna teringat pada sebuah kafe yang muncul di hampir semua episode TV show Sherlock, karena lokasinya yang terletak tepat di sebelah 221B Baker Street. “Punya mantan gebetannya Mrs. Hudson.”
“Ah, Speedy’s Café!” cetus Dava yang langsung mengingat tempat yang dimaksud Reyna.
“Iya! Itu namanya. Mungkin ga ya?”
Baik Dava dan Sebastian mengangguk setuju.
“Mau ke sana sekarang?”
Sebastian menggeleng, lalu menjelaskan bahwa dia akan menunggu seorang irregulars bernama Candice yang tanpa sengaja ditemuinya di lobi hotel semalam. Melihat Sean masih ada di depan, sepertinya Candice belum tiba di tempat ini.
Reyna dan Dava pun mengangguk kemudian meninggalkan Sebastian di ruangan tersebut.
-- --
[1] “Kenakan badge Anda dan temui saya di 221B Baker Street. Cepat!”
[2] “Sebuah barang yang sangat berharga menghilang dari rumah saya. Temukan petunjuknya. Sampai bertemu.”
[3] Drugs atau obat-obatan di sini maksudnya adalah narkoba, karena seringkali dikisahkan bahwa Sherlock Holmes menggunakan narkoba seperti morfin atau kokain.
1 note · View note
hicarolinesouza · 11 days ago
Text
A lua de mel, Sophie Kinsella #resenha
Lottie fica desolada quando seu namorado, Richard, não a pede em casamento como ela esperava. Dias após o término, ela reencontra Ben, um amor da adolescência, e então eles decidem se casar. Fliss, sua irmã mais velha, tenta de todas as maneiras impedir a consumação deste casamento ao mesmo tempo que lida, ou tentar lidar, com as dificuldades de seu próprio divórcio, incluindo a criação de seu filho Noah. Nessa história de contrastes entre a euforia de um casamento e as amarguras de uma separação, as irmãs vivem uma série de desventuras que revelam idealizações e frustrações próprias do romance entre homens e mulheres.
Tumblr media
As histórias de Kinsella são tão loucas que quase tocam o gênero fantasioso mas, até para ela, a criatividade parece encontrar limites algumas vezes. Uma marca da autora são as situações absurdas vividas pelos protagonistas, mas aqui não parece tão natural. Os cenários eram quase sempre armados e não circunstanciais, tirando um pouco o efeito “Oh, meu Deus!”, ainda que tivessem sua graça. Os desafios enfrentados pro Fliss eram mais inusitados ou menos previsíveis que os de Lottie, porém não foram significativos para a história.
Ou seja, depois de um tempo é de se esperar que certas coisas aconteçam, ou não aconteçam. Lá pelo meio do livro, muitas cenas poderiam ter sido tiradas ou suprimidas. E ao contrário de outros romances da autora, o mote inicial de A lua de mel não é muito original: qualquer outro autor poderia partir do mesmo ponto, mesmo que o desenvolvimento de Sophie Kinsella seja único.
Apesar de tudo, as gargalhadas são garantidas. As “tiradas” dos diálogos e pensamentos são sensacionais e os personagens, cativantes – em especial Noah, com sua inocência inconveniente. O diferencial certamente é a narração intercalada entre as perspectivas de Lottie e Fliss, tornando fácil embarcar na mente de cada uma e, no fim, ficar sem saber do lado de qual ficar. Além de romance, a história fala muito sobre os contrastes entre as nossas experiências da juventude em relação à vida adulta, sobre como tudo parece incrível e possível na adolescência.
0 notes
hicarolinesouza · 12 days ago
Quote
Eu tinha corrido uma maratona. Estava passando pela linha de chegada, com os braços levantados de euforia… Agora estou de volta à linha de partida, amarrando os tênis, me perguntando se a corrida vai mesmo acontecer
SOPHIE KINSELLA, A lua de mel
0 notes
tazkiaedelias · 13 days ago
Text
Chapter 2: Meet Sean
Tumblr media
London!
Ini adalah kali pertama Reyna menjejakkan kakinya di benua Eropa. Oleh karena itu, sebulan terakhir Reyna habiskan dengan mengurus paspor dan visa, browsing apa yang harus dilakukannya, membuat list semua tempat yang harus dikunjunginya, bahkan sampai mencetak peta Inggris, beberapa bagian kota London, dan denah tube alias kereta bawah tanahnya. Reyna senang bertualang, tetapi tentu tidak mau tersesat di negara orang. Tidak lupa Reyna membawa kamera, powerbank, dan juga modem internet agar memudahkannya selama di luar negeri.
Reyna juga sudah menginfokan kepada pihak perkumpulan International Fans of Sherlock Holmes bahwa dirinya akan extend selama beberapa hari di Inggris. Sehingga, mereka sudah menyiapkan tiket pesawat pulang pergi sesuai dengan tanggal yang diminta Reyna. Tidak mungkin Reyna melewatkan kesempatan untuk menjelajahi Inggris kan?
Pesawat Emirates yang membawa Reyna mendarat di Terminal 2 Heathrow Airport. Setelah keluar dari pesawat, Reyna meregangkan tubuhnya. Perjalanan belasan jam dari Jakarta ke London terasa panjang, ditambah dengan transit di Dubai. Saat ini waktu menunjukkan pukul dua belas siang di London. Terminal 2 Heathrow Airport ini sangat luas, tetapi petunjuk arah yang ada cukup jelas. Setelah menyelesaikan proses imigrasi dan mengambil koper besarnya dari bagasi, Reyna berjalan menuju pintu keluar.
Tepat setelah melewati daerah duty free, Reyna melihat seorang pria inggris dengan setelan rapi yang membawa kertas bertuliskan namanya. Hal pertama yang diperhatikan Reyna adalah tubuhnya yang tinggi tegap, seperti pemain sepakbola yang biasa Reyna tonton. Wajah pria itu juga sangat menarik, rahang nya yang tegas dengan janggut dan kumis tipis dilengkapi dengan alis yang tebal terasa pas berpadu di wajah pria itu. Rambutnya yang kecoklatan disisir rapi ke belakang. Namun, yang paling menarik bagi Reyna adalah matanya yang berwarna coklat muda itu. Misterius, dingin, dan seperti bisa menyihir siapa pun yang menatapnya
Reyna menghampirinya. “Hi, I am Reyna Devina Putri, you can call me Reyna. Are you from Sherlock Holmes Fans Community?” [1]
Tanpa berbicara, pria itu mengangguk lalu melipat kertas yang dipegangnya itu. Pria itu kemudian menyerahkan sebuah amplop yang terlihat kuno kepada Reyna.
Reyna melihat amplop yang diberikan pria itu. Huruf SH terukir di bagian atas amplop tersebut. Sherlock Holmes, demikian pikir Reyna. Reyna segera membukanya.
[Dear Irregulars,
This man will take you to my hotel so you can take a good rest tonight. Wait for my next letter early morning tomorrow. [2]
Sherlock Holmes.]
Reyna memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop, lalu berucap dalam hati sambil melirik ke arah pria tersebut. My hotel? Kayaknya sih ini Holmes Hotel ya. Niat banget ini mereka buat acara. Feel nya dapet banget. Selain itu, dapet aja orang seganteng aktor untuk jadi usher begini. 
“I’m ready, Sir,” [3] ujar Reyna.
Pria itu mengangguk. “May I?” [4] ucapnya menunjuk ke arah koper yang dipegang Reyna.  Reyna menyerahkan koper besar yang dibawanya kepada pria itu sambil mengucapkan terima kasih. Keduanya segera berjalan menuju sebuah mobil Ford berwarna hitam yang terparkir di short stay car park.
Pria itu membukakan pintu belakang untuk Reyna dan Reyna kembali mengucapkan terima kasih.  
“Where are we going, Miss?” [5] tanya pria itu yang sekarang duduk di kursi pengendara.
“Uhm, Holmes Hotel, I think?” [6] jawab Reyna sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diberikan. Kalau jawabannya salah, apa yang akan terjadi padanya?
Pria itu hanya mengangguk. Tidak lama, mobil tersebut melaju keluar dari area bandara. Sang pengendara tidak menjelaskan apa-apa, bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun.
“Sir, can I know your name? Or are you instructed not to speak with me unless needed?” [7] tanya Reyna setelah beberapa lama sia-sia menunggu pria tersebut membuka pembicaraan.
“You can ask me if you want and I will answer it if I can. And you can call me Sean,” [8] jawab pria tersebut.
“How old are you, Sean?” [9]
Sean berusaha menahan senyumnya. Sedikit tidak menyangka pertanyaan yang diberikan Reyna adalah pertanyaan personal. Awalnya dia berpikir Reyna akan bertanya mengenai acara ini, apa yang harus dilakukan, atau setidaknya memastikan bahwa hotel yang mereka tuju memang benar.
“I am twenty-seven,” [10] jawabnya.
“Kalo di Indo harusnya manggil Kak Sean ni,” gumam Reyna pada dirinya sendiri.
“Sorry?” [11]
“Ah, nothing. So, what do you do? I mean, not today, as you are hired by the community to do this kind of thing now. But, your normal and usual daily job.” [12]
Reyna kembali memberikan pertanyaan personal yang tidak diduga Sean. Kali ini Sean tidak bisa lagi menahan senyumnya. Mungkin ini salah satu alasannya mengapa Indonesia dianggap sebagai salah satu negara yang ramah penduduknya. Mereka tidak segan untuk menyapa dan mengobrol dengan orang lain.
“Why? Is it wrong to ask that in England?” [13]
“Ah, no. It’s alright. I just didn’t expect that question. Well, I am a graduate student,” [14] jawab Sean. Diliriknya gadis yang duduk di belakangnya itu dari kaca spion depan. Gadis itu penuh semangat dan antusias. Matanya berbinar-binar. Rambut hitamnya dipotong sedikit melewati bahu. Gadis itu tidak mengenakan make up yang tebal, hanya sedikit lipstick dan mungkin eyeliner tipis. Oversized sweater yang dipadukan dengan slim fit jeans dan sneakers sangat cocok dikenakannya.
Reyna mencondongkan tubuhnya ke depan, semakin tertarik dengan jawaban yang diberikan Sean. Ternyata Sean sedang mengambil S2 International Relations di Oxford University. Beberapa pertanyaan lain yang diajukan Reyna dijawab dengan santai oleh Sean. Reyna hampir lupa bahwa awalnya dia sempat segan dan ragu untuk banyak bertanya pada pria ini. Rupanya, Sean cukup ramah dan tidak sedingin yang dibayangkannya sebelumnya.
Tidak terasa, mereka sudah sampai di depan sebuah bangunan putih dengan pintu berwarna hijau dengan tulisan Holmes Hotel tertera di atasnya. Barulah Reyna menyadari sesuatu.
“Wait... Do I really stay at this hotel? Or I have to check it first?” [15]
Sean tertawa kecil. “I thought you’ll never ask. Yes, you have to check it first to the receptionist. I will be waiting for you here.” [16]
Tawa renyah Sean membuat Reyna tersipu malu. Dirinya terlalu asik berbincang dengan Sean sampai melupakan bahwa seharusnya dia bisa banyak bertanya mengenai acara ini. Reyna bergegas keluar dari mobil agar Sean tidak perlu terlalu lama menunggu.
Bagian dalam Holmes Hotel didominasi warna putih dan coklat. Klasik, namun tidak terlihat kuno. Reyna menghampiri meja resepsionis yang sedang kosong dan menyebutkan namanya. Seorang wanita muda menghampirinya. Dalam hati Reyna terus berdoa agar dia tidak salah tempat.
“Oh yes, Miss Reyna Devina Putri, a friend of Sherlock Holmes. Can I have your passport, please?” [17] Resepsionis itu tersenyum sambil meminta paspor Reyna untuk kebutuhan check-in hotel. Reyna pun tersenyum lebar, lega karena deduksinya tepat dan juga mendengar kalimat ‘a friend of Sherlock Holmes’. Ketika memberikan paspornya, Reyna menyadari wanita itu mengenakan sebuah pin dengan huruf SH di ujung kerahnya.
Setelah selesai, Reyna keluar menuju mobil untuk mengambil kopernya.
Sean yang masih menunggu menyambutnya dengan senyuman. Koper Reyna sudah dikeluarkannya dari mobil. “Congratulations, Miss Reyna. You've solved the first riddle.” [18]
“So it will be like this for the next 2 days, then?” [19]
Sean mengangguk.
“Well, thank you so much for your help, Sean. And please, just Reyna.” [20]
“You’re very welcome, Reyna,” [21] jawab Sean lalu masuk kembali ke mobilnya.
Reyna memandang Ford hitam yang semakin menjauh itu dengan senyum tersungging di bibirnya.
-- --
[1] “Hai, saya Reyna Devina Putri, bisa dipanggil Reyna. Apakah Anda dari Sherlock Holmes Fans Community?”
[2] “Pria ini akan membawa Anda ke hotel saya sehingga Anda bisa beristirahat dengan baik malam ini. Tunggu surat saya besok pagi.”
[3] “Saya sudah siap”
[4] “Bolehkah?”
[5] “Ke mana tujuan kita, Miss?”
[6] “Hmm, Holmes Hotel, mungkin?”
[7] “Boleh saya tau nama Anda? Atau Anda diinstruksikan untuk tidak berbicara dengan saya kecuali diperlukan?”
[8] “Anda boleh bertanya kepada saya jika Anda mau, Miss Reyna. Saya akan menjawabnya jika saya bisa. Dan Anda bisa memanggil saya Sean.”
[9] “Berapa usiamu, Sean?”
[10] “Usia saya dua puluh tujuh”
[11] “Maaf?”
[12] “Ah, tidak. Jadi, apa pekerjaan kamu? Maksudnya, bukan hari ini, karena kamu kan sedang dipekerjakan oleh komunitas untuk melakukan hal semacam ini sekarang. Tapi, pekerjaan sehari-hari kamu.”
[13] “Kenapa? Apakah salah untuk bertanya hal itu di Inggris?”
[14] “Ah, tidak. Tidak masalah. Saya hanya tidak menduga pertanyaan seperti itu. Saya adalah mahasiswa S2.”
[15] “Tunggu... apa benar hotelnya di sini? Atau saya harus cek dulu?”
[16] “Saya pikir kamu tidak akan bertanya. Iya, kamu harus cek terlebih dahulu kepada resepsionis. Saya akan menunggu di sini.”
[17] “Ah iya, Miss Reyna Devina Putri, teman Sherlock Holmes. Boleh saya pinjam paspornya sebentar?”
[18] “Selamat, Miss Reyna, kamu sudah memecahkan teka-teki pertama.”
[19] “Jadi akan seperti ini untuk dua hari ke depan?”
[20] “Baiklah. Terima kasih untuk bantuanmu, Sean. Dan panggil saja saya Reyna.”
[21] “Terima kasih kembali, Reyna.”
-- --
Author’s Note: Pada chapter-chapter berikutnya, percakapan antara Reyna dengan para native speakers akan dituliskan dalam bahasa Indonesia, walaupun sejatinya berlangsung dalam bahasa Inggris.
2 notes · View notes
hicarolinesouza · 13 days ago
Conversation
Garçanote: Ah! Vocês dois vão se casar?
Lottie: Não. Não. De jeito nenhum.
Lorcan: Claro que não
Garçonete: É que temos uma oferta especial de champanhe pra festas de casamento [...]
Lottie: Na verdade, somos anticasamento. Nosso lema é: faça amor, não juramentos.
Lorcan: Um brinde a isso.
.
SOPHIE KINSELLA, A lua de mel
0 notes
misshedelweiss · 14 days ago
Text
Piso para Dos
Tumblr media
Sinopsis
Tiffy Moore necesita un piso barato, y con urgencia. Leon Twomey trabaja de noche y anda escaso de dinero. Sus amigos piensan que están locos pero es la solución ideal: Leon usa la cama mientras Tiffy está en la oficina durante el día y ella dispone del apartamento el resto del tiempo. Y su modo de comunicarse mediante notas es divertido y parece funcionar de maravilla para resolver las vitales cuestiones de quién se ha acabado la mantequilla y si la tapa del váter debería estar subida o bajada.
Claro que si a eso se añaden exnovios obsesivos, clientes exigentes, hermanos encarcelados por error y, lo más importante, el hecho de que aún no se conocen, Tiffy y Leon están a punto de descubrir que lograr la convivencia perfecta no es fácil. Y que convertirse en amigos puede ser solo el principio...
Bienvenidos queridxs,
Una vez más, os traemos una reseña de nuestra temática preferida, la romántica. Esta vez nos adentraremos en la lectura de un libro más actual (abandonamos el género romántico - histórico, pero no por mucho tiempo) y nos adentraremos en esta divertida novela chick lit juvenil de  Beth O´Leary, Piso para Dos.
Como la mayoría de libros de este género, la historia comienza cuando la “estable” vida de nuestra protagonista sufre un traspiés y todo se va al garete, su novio la engañó y ahora ella tiene que mudarse del piso que compartían, cosa muy difícil en pleno Londres, dónde lo único que se puede permitir es un “pisito” con una sola habitación, en el que ya vive alguien. Y aquí es donde se pone interesante la cosa, sin haberse conocido en persona Tiffy y Leon llegan a un acuerdo  para compartir el piso, una trabaja por el día y el otro por la noche, ¿que podría salir mal? Pues en realidad nada, salvo que la vida de ambos cambiará para siempre.
Los protagonistas tienen caracteres totalmente diferentes, Tiffy es extrovertida y está un poco loca y Leon es un chico solitario y tranquilo, aparentemente son la peor combinación para ser compañeros de piso, pero un simple block de post-its conseguirá que se forme un precioso vínculo entre ellos mientras se ayudan mutuamente. Asimismo, nosotros como lectores, pasaremos momentos encantadores y divertidos leyendo cómo se crea y consolida su relación.
Se trata de una historia un tanto original debido al toque de los post-it y como se va fraguando la historia, si bien no se escapa de lo habitual de chico y chica totalmente incompatibles a primera vista que se dan cuenta que si lo son.
Con esta historia sencilla y divertida y sus  personajes que sin duda se ganarán tu corazón y simpatía, te aseguramos que no pasarás un mal rato.
Atte. Miss Hedelweiss
0 notes
hicarolinesouza · 14 days ago
Quote
Não voltem, eu sempre digo para eles. Não voltem. A juventude ainda está onde você a deixou e é lá que deve ficar. Qualquer coisa que valha a pena ser levada na jornada da vida já vai estar com você
SOPHIE KINSELLA, A lua de mel
0 notes
tazkiaedelias · 14 days ago
Text
Chapter 1: An Email that Starts Everything
Tumblr media
Reyna tidak bisa mempercayai email yang baru saja diterimanya di hari minggu pagi ini. Gadis berusia 21 tahun yang memasuki tahun terakhirnya berkuliah itu berulang kali membaca kata demi kata yang tertulis di email tersebut.
“Congratulations, Ms. Reyna Devina Putri. You are accepted to our International Fans of Sherlock Holmes Program as Baker Street Irregulars. AAAAHHHH!!!”
Teriakan heboh Reyna membuat kedua orangtua nya segera menghampirinya.
“Kenapa Nak? Kamu kenapa?”
Reyna berusaha menenangkan dirinya agar bisa menjelaskan perlahan-lahan kepada kedua orangtua nya. Satu bulan yang lalu, Reyna yang tergabung dalam perkumpulan International Fans of Sherlock Holmes, mendaftarkan diri untuk ikut serta dalam program tahunan perkumpulan tersebut. Program tersebut hanya bisa diikuti oleh lima orang penggemar Sherlock dan mereka bisa pergi ke London untuk mengikuti tour ala Sherlock Holmes, fully paid! Tour ini juga tidak seperti tour wisata biasa dengan tour guide dan itinerary yang jelas. Mereka akan diberikan misteri dan harus mencari petunjuk dari berbagai tempat yang muncul di cerita Sherlock Holmes. Oleh karena itu, mereka yang terpilih disebut sebagai Baker Street Irregulars, yang seringkali membantu Sherlock Holmes memecahkan sebuah kasus.
Namun, hadiah sebesar itu tentu tantangannya tidak akan mudah. Reyna harus bersaing dengan ratusan ribu pendaftar lainnya. Seleksi yang digunakan mulai dari tes pengetahuan mengenai dunia Sherlock Holmes sampai tes wawancara virtual.
Ingatan Reyna kembali ke masa satu bulan yang lalu.
Ketika Reyna pertama kali mendapatkan email mengenai program ini, Reyna langsung mempersiapkan diri. Reyna membaca ulang buku-buku Sherlock Holmes yang dimilikinya. Padahal, Reyna mungkin sudah hampir hapal di luar kepala setiap detail kasus. Reyna memang sangat suka membaca, apalagi cerita detektif. Buku-buku dari Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, dan berbagai penulis lain berderet di lemari bukunya. Namun kisah Sherlock Holmes sangat berbeda untuknya. Reyna sudah membaca setiap buku nya lebih dari 10 kali. Jauh lebih sering dibandingkan buku kuliah Psikologi Perkembangan yang hanya dibukanya jika akan ujian. Reyna juga menonton setiap film dan tv series yang terkait dengan Sherlock Holmes. Apalagi, dua aktor yang paling disukainya pernah didapuk menjadi pemain Sherlock Holmes, Robert Downey Jr dan Benedict Cumberbatch.
Di tahap pertama, Reyna harus menjawab 100 pertanyaan mengenai Sherlock Holmes dan kasus-kasusnya dalam waktu 1 jam. Setengah bagian pertama merupakan hal yang sangat mudah bagi Reyna, tetapi setengah bagian terakhir cukup menyulitkannya. Namun, Reyna memang memiliki keberuntungan yang besar untuk masalah menjawab pertanyaan. Nilai Reyna di tes ini cukup untuk membuatnya lolos ke tahap kedua.
Mereka yang lolos di tahap pertama ini kemudian harus menjalani tahap tes memecahkan misteri. Para peserta diberikan satu file kasus mengenai sebuah pencurian di brankas yang berisi laporan dari kepolisian, para saksi, dan foto-foto tempat kejadian perkara. Mereka diberikan waktu 24 jam untuk mempelajari kasus tersebut dan harus memberikan penjelasan lengkap mengenai siapa yang mencuri barang-barang di brankas tersebut dan di mana pelaku menyimpan barang curiannya. Reyna mengirimkan jawabannya tepat sebelum waktu 24 jam habis, dan hanya bisa berharap bahwa analisa nya benar.
Beberapa hari kemudian, Reyna pun menerima email yang menyatakan bahwa Reyna lolos tes tahap kedua. Reyna tersenyum bangga pada dirinya sendiri, setidaknya membaca banyak cerita detektif membuatnya cukup jeli untuk bisa memecahkan kasusnya sendiri. Tes berikutnya yang harus dijalani Reyna adalah tes tahap akhir yaitu wawancara virtual untuk melihat seberapa besar minat dan ketertarikan mereka terhadap Sherlock Holmes serta pribadi masing-masing. Reyna diwawancara oleh seorang wanita muda yang sangat cantik dan anggun, yang mungkin berusia beberapa tahun di atasnya. Wanita ini memperkenalkan dirinya sebagai pengurus perkumpulan International Fans of Sherlock Holmes, yang berdasarkan aksennya, Reyna menebak wanita ini berasal dari Inggris. Walaupun Bahasa Inggris bukan kekuatan Reyna, tetapi setidaknya Reyna bisa menangkap setiap pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan lancar.
Awalnya Reyna ragu akan lolos, karena tentu banyak yang bisa menjalani proses wawancara dengan jauh lebih lancar. Reyna merasa masih kalah jauh dibandingkan teman-temannya yang bersekolah di Sekolah Internasional. Apalagi mereka yang bahasa utamanya adalah Bahasa Inggris.  Maka, email yang diterimanya hari ini sungguh di luar perkiraan Reyna.
Reyna adalah salah satu dari lima orang terpilih!
Kedua orangtuanya memeluknya bangga. Walaupun mereka tidak terlalu memahami kegemaran Reyna akan tokoh detektif fiktif itu, namun mereka tahu hal ini sangat berarti untuk Reyna.
“Lalu gimana, Nak? Kapan kamu berangkat?” tanya Bunda sambil mengelus kepala Reyna. Putri semata wayangnya ini selalu memiliki kejutan untuknya. Reyna gadis yang cerdas, walau mungkin bukan yang terbaik di kelasnya. Namun, pada satu hal yang dia sukai dan sangat diinginkannya, Reyna akan bekerja sangat keras untuk hal itu. Walaupun jika hal itu tidak mudah atau tidak umum bagi orang lain. Misalnya ketika Reyna memilih Fakultas Psikologi sebagai pilihannya dibandingkan Fakultas Kedokteran seperti bundanya ataupun Fakultas Ekonomi seperti ayahnya. Yang unik, jika ditanya apa alasannya, Reyna selalu menjawab bahwa dia ingin mengambil psikologi forensik atau psikologi olahraga nantinya. Ya, selain menyukai cerita detektif, Reyna juga suka olahraga, bahkan Reyna menjadi anggota tim futsal di fakultasnya. Pilihan yang tidak umum, tetapi Reyna selalu menjalani apa yang dia sukai dengan sepenuh hati.
Reyna melanjutkan membaca email yang diterimanya itu.
“Di sini ditulisnya bulan Oktober, Bunda. Aku akan dipesankan tiket pesawat, sampai London tanggal 12 Oktober. Jadwal acaranya nya di tanggal 13 dan 14 Oktober, lalu tanggal 15 acara bebas dan tanggal 16 nya pulang. Boleh extend, namun bayar sendiri untuk hotel dan pengeluaran lainnya.” Reyna terdiam sebentar sebelum melanjutkan, “Reyna boleh extend ga?”
“Ngapain kamu extend?”
“Yah, sayang banget soalnya Yah. Udah jauh-jauh ke Inggris terus cuma beberapa hari, di London doang pula. Reyna kan pengen banget ke Old Trafford. Boleh ya Yah, Bun…” Reyna mengatupkan tangannya dan memberikan tatapan penuh harap.
Bunda melirik ke arah Ayah. Pergi ke Old Trafford, stadion tim sepakbola kesukaan Reyna, Manchester United, adalah impian Reyna dari lama. Sebelumnya, Reyna pernah diizinkan untuk solo travelling ke Singapura dan juga Thailand. Namun ini Inggris, negara yang sangat jauh. Tentu sangat berbeda.
“Inggris salah satu negara yang aman kok, Bun. Apalagi mereka pakai Bahasa Inggris, bukan bahasa yang ga familiar seperti Thailand,” lanjut Reyna seperti mengetahui apa yang dipikirkan bundanya.
Bunda berusaha memberi kode kepada Ayah.
“Bulan Oktober kan kamu masih kuliah?” tanya Ayah.
“Izin satu minggu aja kok Yah. Itu juga tepat setelah jadwal UTS, jadi ga akan mengganggu UTS maupun persiapan UTS. Reyna janji akan terus masuk selama satu semester kecuali pas satu minggu itu.”
“Memangnya kamu ada uang nya?”
Reyna mengangguk bersemangat seakan sudah menunggu-nunggu pertanyaan ini. “Ada kok, Reyna kan kemarin udah nabung untuk rencana Reyna ke Penang untuk liburan akhir tahun nanti. Berarti Penang akan Reyna coret, uangnya dialokasiin untuk ini.” Dalam hati Reyna bersyukur dia sudah menabung untuk pergi liburan akhir tahun dan belum membeli tiket pesawatnya. Untung saja pengumuman Baker Street Irregulars ini seminggu sebelum travel fair. Jika telat sedikit, tentu Reyna sudah membeli tiket pesawat ke Penang.
Kedua orangtua Reyna menghela napasnya. Seperti biasa, jika ada yang Reyna inginkan, Reyna pasti akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Dan jika mereka belum mengizinkan Reyna sekarang, Reyna akan terus membujuk mereka bahkan sampai hari keberangkatan Reyna nanti. Daripada beberapa bulan ke depan kedua orangtua Reyna hidup dengan tekanan, lebih baik Reyna diizinkan dari sekarang. Lagipula, Reyna selama ini tidak pernah menyalahgunakan kepercayaan orangtuanya.
“Ya sudah kamu mulai persiapkan segalanya kalau begitu. Paspor, visa, dan lainnya. Pesan hotelnya juga. Jangan terlalu mepet, nanti malah terlalu dekat dengan UTS kamu dan kamu jadi ga fokus untuk keduanya.”
Reyna mengangguk.
“Oiya satu lagi. Jangan kecantol bule ya di sana, nanti kamu ga mau pulang deh.”
“Bunda iiiihhh…”
6 notes · View notes